28-06-2005
Antar topik
hericz.blogspot.com: Kompas Baru, alinea ketiga:
… Dengan garis-garis pembatas antar topik berita, pergantian font, dan permainan warna, kompas menjadi koran yang lebih mudah dinikmati secara visual oleh pembaca.
Yang benar adalah antartopik. Kata antar adalah bentuk terikat yang jika digabungkan dengan bentuk dasar maka penulisannya harus disatukan. Contoh bentuk terikat lain di antaranya: dwi, tri, catur, maha, swa, pra, tuna, anti, pasca, non, dan sebagainya.
Ada tiga aturan dalam penulisan bentuk terikat:
1. Bentuk terikat yang digabungkan dengan bentuk dasar penulisannya harus serangkai dengan kata yang mengikutinya.
Contoh: mahasiswa, swakarya, tunarungu, antarnegara, dwitunggal, prasejarah. (Maha Esa adalah pengecualian karena terkait dengan dokumen negara.)
2. Jika bertemu dengan kata turunan (kata jadian atau kata berimbuhan) maka bentuk terikat harus ditulis terpisah.
Contoh: Maha Penyayang, pasca kemerdekaan, anti penindasan, non kolesterol.
3. Bentuk terikat harus dipisah dengan tanda hubung apabila bertemu dengan kata yang diawali dengan huruf besar.
Contoh: anti-Israel, pasca-Konferensi Asia Afrika, non-Indonesia.
Perbaikan:
Ada pendapat menyebutkan bahwa bentuk terikat ditulis serangkai jika diikuti oleh kata dasar, dan ditulis terpisah jika diikuti oleh kata turunan. Pendapat ini pula yang saya kemukakan di atas sebelumnya.
Dalam Pedoman EYD, bentuk terikat dibahas di dalam pembahasan kata turunan. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi—ini yang disebut dengan bentuk terikat—gabungan kata itu ditulis serangkai.
Catatan di bawahnya menyebutkan:
(1) Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya adalah huruf kapital, di antara kedua unsur itu dituliskan tanda hubung (-).
Misalnya: non-Indonesia, pan-Afrikanisme.
(2) Jika kata maha sebagai unsur gabungan diikuti oleh kata esa dan kata yang bukan kata dasar, gabungan itu ditulis terpisah. Misalnya: Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita; Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.
Pendapat inilah yang benar dan pendapat saya sebelumnya salah. Jadi, bentuk terikat selalu ditulis serangkai dengan setiap kata yang mengikutinya, kecuali pada bentuk-bentuk pada dua catatan di atas.

28-06-2005 @ 12:56
Berarti yang benar “pertandingan sepakbola antarkampung”?
28-06-2005 @ 13:02
Yang benar adalah “pertandingan sepak bola antarkampung”.
28-06-2005 @ 14:39
Bener banget dah tuh Pak Polisi! Tapi, Beh, ane mo ngomentarin nyang nomer dua. Nyang namenye bentuk teriket tetep aje, mau teriket ame kate dasar atawa kate imbuhan, tetep aje nempel getu!! Jadinye ya, Mahapenyayang, nonkolesterol, pascakemerdekaan, antipenindasan, antardepartemen, dsb. Nah, tapi, neh, tapi. Buat kate dasar nyang awalannye pokal kayak Esa & Adil, pengecualian tuh Bang. Kalo digabung ame bentuk teriket “maha”, jadinye Maha Esa, Maha Adil. Maap ye bang Polisi, pake bahasa Betawi. Pan, Jakarte lagi ultah? Met ultah dah buat Jakarte! Moga2 dah masyarakat qte, Jakarte terutame, bisa memperbaiki bahase Indonesianye. Pan, kote kite, barometer dari kote2 lain kan? Jadi, orang2nye juga kudu bagus dong ye bahasenye? En ane juge salut neh ame orang kayak Bang Polisi nyang udeh mo bersuse2 ngawasin pemakeian bahase kite. Tapi, ane penasaran dah.Jadi pengen tahu, ente sapa seh sebenarnye?Reveal your ID dunk, Pak Polisi! Seumpame malu,yee ke email ane aje kali yee.
28-06-2005 @ 14:42
jangan2 ini pak hasan alwi. halo pak!
28-06-2005 @ 14:48
Bener banget dah tuh Pak Polisi! Tapi, Beh, ane mo ngomentarin nyang nomer dua. Nyang namenye bentuk teriket tetep aje, mau teriket ame kate dasar atawa kate imbuhan, tetep aje nempel getu!! Jadinye ya, Mahapenyayang, nonkolesterol, pascakemerdekaan, antipenindasan, antardepartemen, dsb. Nah, tapi, neh, tapi. Buat kate dasar nyang awalannye pokal kayak Esa & Adil, pengecualian tuh Bang. Kalo digabung ame bentuk teriket “maha”, jadinye Maha Esa, Maha Adil. Maap ye bang Polisi, pake bahasa Betawi. Pan, Jakarte lagi ultah? Met ultah dah buat Jakarte! Moga2 dah masyarakat qte, Jakarte terutame, bisa memperbaiki bahase Indonesianye. Pan, kote kite, barometer dari kote2 lain kan? Jadi, orang2nye juga kudu bagus dong ye bahasenye? En ane juge salut neh ame orang kayak Bang Polisi nyang udeh mo bersuse2 ngawasin pemakeian bahase kite. Tapi, ane penasaran dah.Jadi pengen tahu, ente sapa seh sebenarnye?Reveal your ID dunk, Pak Polisi! Seumpame malu,yee ke email ane aje kali yee.
12-07-2005 @ 10:56
apakah kata kau yang merupakan kependekan dari kata engkau penulisannya disatukan dengan verba. mis. kau + lihat = kaulihat
kau + dengar = kaudengar
apakah ada aturan tertentu yang baku untuk menentukan kapan kata kau penulisannya disatukan dan kapan kata kau penulisannya dipisah. terima kasih. salam kenal.
20-07-2005 @ 12:15
#6: Kata ganti “kau” dan “ku”, yang merujuk pada kata “engkau” dan “aku”, ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Contoh: “Kuberikan bunga ini bukan untuk kaubuang!” Akan tetapi: “Aku memberikan bunga ini tetapi engkau membuangnya!”.
30-08-2005 @ 18:04
pak polisi, kalau penggunaan “multi” bagaimana? misal: “multi media” atau “multimedia”
31-08-2005 @ 23:59
Komentar saya atas dua aturan yang disebutkan di atas tolong dijawab.
1. Bentuk terikat yang digabungkan dengan bentuk dasar penulisannya harus serangkai.
—> jadi kalo maha kuasa harusnya mahakuasa?
—> pasca itu dibaca “pasca” atau “paska”? Setahu saya dibaca “pasca”. Tapi kok banyak orang bacanya “paska” ya?
2. Jika bertemu dengan kata turunan (kata jadian atau kata berimbuhan) maka bentuk terikat harus ditulis terpisah.
Contoh: Maha Penyayang, pasca kemerdekaan, anti penindasan, non kolesterol.
—-> kok kolesterol juga disebuh berimbuhan? bukankah kolesterol merupakan kata dasar?
Terima kasih…
06-09-2005 @ 10:19
#8: Kata multi yang merupakan unsur gabungan harus ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Misalnya: multimedia, multilateral, multietnis.
#9: Saya mengakui pendapat yang saya kemukakan sebelumnya salah dan pendapat yang dipaparkan oleh Bung Jongen (#3) adalah benar.
Untuk pertanyaan Anda:
(1) Penulisan yang benar adalah mahakuasa, dan pasca dibaca /pasca/, bukan /paska/.
(2) Ini akibat dari kesalahan saya, maaf. Penulisan yang benar adalah Maha Penyayang, pascakemerdekaan, antipenindasan, nonkolesterol.
30-03-2006 @ 17:38
Anti disebutkan sebagai bentuk terikat. Sekarang kita mengenal RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi. RUU itu oleh media ditulis dua macam. Yang pertama, anti dan pornografinya disatukan. Yang kedua, anti dan pornografinya dipisahkan. Kalau menggunakan aturan Polisi EYD, tampaknya, seharusnya disatukan. Tapi kalau disatukan, bisa timbul salah pengertian. Kenapa? Kalau disatukan, yang anti ya pornografi saja sedangkan pornoaksinya tidak anti. Jadi, boleh pornoaksi tapi tidak boleh pornografi. Kalau disatukan dan tidak ingin menimbulkan salah pengertian mestinya RUU Antipornografi dan Antipornoaksi ‘kan?
Atau memang anti ini sebetulnya bisa juga tidak terikat.
Terima kasih
03-04-2007 @ 10:59
Pak Polisi, saya mau tanya:
utk penulisan dua kata yang punya satu arti, bolehkan atau haruskan diberi tanda penghubung? Tujuannya adalah utk menghindari salah pengertian. Contoh: kupon makan karyawan. Apakah sebaiknya ditulis: kupon-makan karyawan ?
03-04-2007 @ 12:20
Jika frasa tersebut dikhawatirkan menimbulkan kesalahpahaman, tanda hubung sebaiknya digunakan. Anda sudah memberikan contoh.
Contoh lainnya adalah frasa “mobil istri dokter baru” yang membingungkan. Apakah yang baru? Mobil, istri, atau dokter?
Selain menggunakan tanda hubung, Anda dapat pula mencari cara lain. Dalam contoh Anda, frasa tersebut mungkin dapat ditulis “kupon makan untuk karyawan”, misalnya.
29-11-2007 @ 21:24
Menurut tata bahasa yang saya tahu, untuk menunjukkan milik, dicontohkan seperti ini: “rumah Bayu”, “motor Bayu”, “Bapak Bayu”. sedangkan, contoh seperti “rumahnya Bayu”, “motornya Bayu”, “bapaknya bayu” adalah tidak baku: dipengaruhi tata bahasa Jawa.
Pertanyaan saya,
1. Pada kalimat “Yang terhormat Bapak Bayu”, yang dimaksud “Bapak Bayu” saya atau bapak saya?
2. Kalau orang ingin tahu nama bapak saya, dengan bertanya kepada Polisi EYD, pertanyaan mana yang harus diutarakan: “Pak Polisi, siapa nama bapak Bayu?” atau “Pak Polisi, siapa nama bapak bapak Bayu?”
21-04-2008 @ 20:48
Wah, kayaknya Pak Polisi perlu dibantu, nih! Betul sih, bentuk terikat haruslah menempel pada kata dasar, tetapi ada beberapa pengecualian yang membuat bentuk terikat seperti `maha-` harus dipisah. Pengecualian itu adalah jika kata dasar tersebut adalah bahasa asing. Contoh Maha Esa. Nah, karena maha- melekat pada kata dasar, maka penyayang bukanlah kata dasar sehingga penulisannya menjadi Maha Penyayang. Mungkin ini bisa membantu…