Pemboman

jalansutera.com: Pemboman itu Keji!

Kata turunan yang benar bukanlah pemboman tetapi pengeboman. Komentar Ronny pada entri tersebut benar: kata-kata yang terdiri dari satu suku kata jika diberi awalan pe- atau me- maka harus diberi sisipan -nge-.

Dengan demikian kata yang benar adalah mengebom, pengebom, pengeboman, mengecat, pengecatan, mengelap, pengelapan, mengetes, pengetesan, mengepel, pengepelan, mengecek, pengecekan, mengecor, pengecoran, mengelem, pengeleman, dan seterusnya.

Media massa pun terlihat tidak seragam dalam menerapkan kaidah ini. Misalnya, ada media yang menulis pemboman ada pula yang menulis pengeboman. Nasib yang kurang lebih sama juga dialami oleh kata telepon dan telefon, tarip dan tarif, Pebruari dan Februari, Nopember dan November, praktek dan praktik, apotik dan apotek, dan seterusnya.

Salah satu sifat bahasa adalah arbitrer—manasuka, sehingga kata-kata yang telah mengendap lekat pada setiap penutur bahasa—meskipun keliru—itulah yang akhirnya menjadi “peraturan baku” yang sulit diubah. Jika kita ingin mengubahnya—dan itulah idealnya—diperlukan upaya yang luar biasa karena kita akan berhadapan langsung dengan masyarakat penutur bahasa yang sudah merasa nyaman dengan penggunaan kata-kata tersebut.

12 komentar »


  1. didats berkomentar,

    kalau ini gimana om?
    “mentertibkan” dengan “menertibkan”?
    mana yg benar? didats masih bingung tuh…
    tapi prefer ke mentertibkan sih…

  2. Polisi EYD berkomentar,

    Didats, kalau bingung coba pegangan. :)

    Apabila kita ragu seperti pada kasus ini, salah satu cara mencari jawabannya adalah dengan mencoba membandingkannya dengan kata lain yang sejenis.

    terus –> meneruskan
    tetap –> menetapkan
    tinggal –> meninggalkan

    maka tentunya

    tertib –> menertibkan

  3. fajri berkomentar,

    tolong artikel ini dikoreksi dan dikembalikan ke bahasa yang benar. pusing saya bacanya.

  4. atta berkomentar,

    memesona. yah… setelah terbiasa dengan mempesona, dan salah, konsep mana suka ini akhirnya ditanggalkan.

  5. Polisi EYD berkomentar,

    #3: Um… eh… kok saya juga pusing? :) Saya tidak membaca isi secara keseluruhan, tetapi di aline pertama saja sudah ada kata “di desain” yang seharusnya adalah… ya betul, “didesain”.

    Juga terjemahan “dual-core” yang tidak konsisten: “otak ganda” atau “inti ganda”?

  6. elmiftah berkomentar,

    mengenai sisipan-nge- pada kata bom menjadi pengeboman atau mengebom saya pikir sudah sesuai kaidah.
    saya mau nanya nih, bener gak, kata yang hanya memiliki satu suku kata biasanya serapan dari bahasa asing seperti bom, cor…
    btw, kalau cor menjadi pengecoran ya..:)
    trims dan salam kenal

  7. Ben berkomentar,

    Menurut Dr. J.S. Badudu di buku “Inilah Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar” I halaman 58, yang benar adalah membom.
    Awalan menge- timbul karena pengaruh dialek Jakarta.

  8. prazz berkomentar,

    *baca komennya atta*

    Oooh.. jadi memesona yah? jadi selama ini kita semua salah yah? tapi klo me- program jadinya tetep memprogram kan bukan memrogram?

  9. Polisi EYD berkomentar,

    Ada ahli bahasa yang berpendapat bahwa apabila kata dasarnya diawali dengan konsonan ganda, maka huruf p tidak luruh jika diberi awalan mem-. Jadi yang benar adalah “memprogram”, “memproklamasikan”, “memprioritaskan”.

  10. Polisi EYD berkomentar,

    #7: Saya baru tahu ada referensi seperti itu tentang hal ini. Terima kasih, Mas Ben. Seingat saya, saya pernah juga membaca referensi yang berpendapat lain. Saya cari dulu deh. :)

    Baru: Di KBBI, kata yang terdaftar adalah “pengeboman”, bukan “pemboman”. Demikian juga halnya dengan kata yang bersuku kata tunggal lainnya.

  11. Polisi EYD berkomentar,

    #6: Wah, saya tidak tahu apakan semua kata yang bersuku kata tunggal adalah serapan dari bahasa asing. Apakah “lap” dan “cat” juga kata serapan? Ada yang tahu tentang hal ini? :)

  12. Mike berkomentar,

    Wah, sudah setahun lebih tidak ada komentar ya? Tidak apa, saya akan tetap berkomentar, siapa tahu penting. Hehe..

    Perihal “telepon” vs “telefon”, berarti yang benar adalah “telefon” ya? Bagaimana dengan slogan Flexi, “Bukan Telepon Biasa,” dan StarOne, “Telepon Untuk Semua?”

    Hasil googling situs berbahasa Indonesia untuk “telepon” vs “telefon” juga menyimpulkan “telepon” lebih banyak dipakai (hampir 2 kali lipat).

    Duh, bingung…


Komentar Anda:


Alamat e-mail tidak akan ditampilkan, HTML yang diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>