12-08-2005
Pewaris
Dalam berbahasa sehari-hari, kita sudah amat terbiasa memakai kata pewaris. Namun, sudah tepatkah penggunaannya?
Perhatikan kutipan paragraf yang diambil dari media massa berikut ini.
Fahd yang diperkirakan lahir tahun 1923 menjadi calon pewaris takhta setelah Raja Faisal terbunuh tahun 1975. (Kompas)
Ulama adalah pewaris para nabi dan pembawa hati nurani umat sehingga dapat melakukan koreksi terhadap penyalahgunaan kekuasaan oleh penguasa. (Media Indonesia)
Apa arti kata pewaris yang sebenarnya? Kata tersebut berasal dari kata waris yang berarti orang yang berhak menerima warisan dari orang yang meninggal, lazim juga disebut ahli waris. Kata ahli di sini merujuk pada anggota suatu golongan, seperti pada ahli kitab dan ahli kubur. Orang yang mewariskan (harta, takhta, ilmu, dan lain-lain) disebut pewaris.
Dengan demikian, yang dimaksud pewaris takhta pada contoh kalimat pertama di atas seharusnya adalah Raja Faisal, sedangkan Fahd adalah waris atau ahli waris. Juga, kita seharusnya mengatakan bahwa ulama adalah ahli waris para nabi, sedangkan para nabi adalah pewaris.
Nah sekarang, apakah Pangeran Charles adalah pewaris takhta Kerajaan Inggris saat ini?

13-08-2005 @ 7:06
wah baru tau nih. menarik.
16-08-2005 @ 2:49
wah.. teringat waktu dulu waktu ujian mata kuliah hukum waris islam.. saya gak lulus, karena kesalahan serupa… hiks..hiks..
Pak polisi, maaf nih, agak melenceng sedikit, tapi kata “terkini” itu benar apa salah? sempat sekilas saya baca di salah satu rubrik bahasa, bahwa kata itu salah. Apa benar?
16-08-2005 @ 15:02
Wah, saya malah baru memerhatikan kata “terkini” ini. Awalan “ter-” di sana jelas bermaksud untuk memberi arti “paling”, tetapi apakah diimbuhkan di depan kata “kini” adalah tepat mengingat “kini” berarti “saat ini”? Mengapa tidak menggunakan kata “terbaru” atau “mutakhir” saja?
Ada pendapat tentang hal ini?
16-08-2005 @ 23:44
nah, selama ini saya juga berpendapat sama dengan pak Polisi. lebih baik pakai “terbaru”. Tetapi kalau pak Polisi perhatikan, beberapa kali kata “terkini” muncul di media massa. Hal ini baru saja saya diskusikan dengan teman saya yang saat itu memegang Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Di dalam KBBI tercantum bahwa “kini” adalah kata benda, bukan kata keterangan waktu seperti yang saya kira selama ini. Imbuhan “ter-” menjadikannya kata sifat. Gimana nih pak Polisi? yang salah KBBI, atau artikel yang saya baca di salah satu koran nasional itu ? (sampai sekarang pun saya tidak ingat tepatnya itu koran apa.. hehe)
21-10-2005 @ 20:53
Wah bener tuh … kesalahan serupa juga terjadi dalam acara reality show “Warisan” yang sudah beres itu.
Bahasa Indonesia sepertinya remeh ya …!
25-01-2006 @ 20:09
waaaa makasih, sudah mempercerah saya…