07-09-2005
Pemukiman atau Permukiman?
Kalimat berikut ini saya kutip dari paragraf pertama di nofieiman.com: Jatuhnya Mandala Airlines di Medan.
Tak sampai satu kilometer sejak lepas landas, pesawat secara tiba-tiba oleng, lalu jatuh di pemukiman dan jalan tak jauh dari bandara Polonia.
Kata pemukiman memang bersaing pemakaiannya dengan kata permukiman. Demikian pula kata putusan bersaing dengan kata keputusan, sedangkan kata simpulan bersaing dengan kata kesimpulan. Manakah bentukan yang benar?
Pembentukan kata turunan dalam bahasa Indonesia sebenarnya mengikuti aturan yang konsisten. Di antara bentukan tersebut terdapat hubungan yang teratur satu sama lain. Perhatikan pola pembentukan kata berikut ini.
tani, bertani, petani, pertanian
silat, bersilat, pesilat, persilatan
dagang, berdagang, pedagang, perdagangan
mukim, bermukim, pemukim, permukiman
Perhatikan pula pola lain dalam pembentukan kata berikut ini.
pakai, memakai, pemakai, pemakaian, pakaian
baca, membaca, pembaca, pembacaan, bacaan
putus, memutuskan, pemutus, pemutusan, putusan
ringkas, meringkas, peringkas, peringkasan, ringkasan
simpul, menyimpulkan, penyimpul, penyimpulan, simpulan
Anda punya contoh yang lain?

08-09-2005 @ 6:19
Jujur saja, saya juga agak rancu dengan kata itu, namun, karena kata “pemukiman” lebih populer daripada “permukiman”, untuk sementara saya gunakan opsi yang pertama. Anyway, thanks for visiting.
09-09-2005 @ 16:25
cuma mau nanya,
jika benar,
me+paku = memaku
me+periksa = memeriksa
me+puja = memuja
me+panjat = memanjat
lalu,
me+perkosa = memerkosa? atau memperkosa?
me+perdaya = memerdaya? atau memperdaya?
terima kasih.
*betewe, kapan-kapan saya tolong diperiksa ya*
12-09-2005 @ 7:50
Kata yang benar: memerkosa, memosisikan, memengaruhi.
Kata “perdaya” adalah kata turunan (kata dasar “daya”) sehingga bentukan yang benar adalah “memperdaya”.
14-09-2005 @ 11:27
Berarti kata keputusan dan kesimpulan sebagai kata benda itu salah? Maaf tapi saya masih agak bingung. Bagai mana dengan kalimat “Jadi, kesimpulan akhir dari masalah ini adalah…?”
15-09-2005 @ 8:18
Jika melihat pola pembentukan kata turunan, kata yang baku seharusnya adalah “simpulan” dan “putusan” sehingga kalimat yang Anda berikan menjadi “Jadi, simpulan akhir dari masalah ini adalah…”.
15-09-2005 @ 20:28
iseng-iseng sy coba search ke google untuk pasangan2 kata yg kita perdebatkan.
survei lewat google mungkin bukan cara yang tepat, tetapi lumayan jg untuk disimak kok,…
memrogram: 1.270
memprogram: 560
–> agak tidak menyangka dengan hasil ini. saya kira akan lebih banyak yang memakai memprogram daripada memrogram.
memosisikan: 630
memposisikan: 19.500
–> msh banyak bgt yg salah ya?
memerkosa: 1.090
memperkosa: 13.700
–> jg msh byk yg salah !
pemukiman: 92.100
permukiman: 101.000
–> sembang !!! nggak nyangka bgt,…
memerdaya: 29
memperdaya: 702
–>
simpulan: 906
kesimpulan: 190.000
–> sangat jauh.
*) jangan ikuti cara saya menulis !!!
16-09-2005 @ 7:30
Wah, Anda rajin, ya? Sip.
Kalau kita perhatikan, ternyata penulis-penulis kita pun—termasuk media massa—tidak konsisten dalam memilih kata-kata tersebut. Misalnya dalam sebuah tulisan dipilih kata “memposisikan” tetapi dalam tulisan lainnya kata “memosisikan” yang muncul. Bahkan ada juga yang menulis kedua kata itu dalam tulisan yang sama!
20-09-2005 @ 14:49
7#. makan - makan(tm)
20-09-2005 @ 22:03
#5. Menurut pendapat saya, “kesimpulan” sudah merupakan satu kata baru yang merupakan kata benda yang berbeda artinya dari “simpulan”.
Misalnya didalam konteks mengikat tali mungkin dipergunakan “simpulan” dan dalam contoh kalimat #4 dipergunakan “kesimpulan”.
#7, karena “penulis-penulis” sudah pasti tidak terdiri dari satu orang saja, memang sangat besar harapan kalau terjadi ke-tidak konsisten-an dalam pemilihan kata.
Satu orang pun masih bisa berubah-ubah, misalnya saya setelah membaca blog polisieyd mungkin berubah pendapat, tetapi setelah membaca komentar terhadap blog berubah pendapat lagi.
22-09-2005 @ 14:10
#9: Di dalam KBBI edisi kedua, “simpulan” disamakan artinya dengan “kesimpulan”. Jadi tidak hanya berhubungan dengan konteks mengikat tali. Saya sendiri tidak begitu sependapat dengan hal ini dengan alasan pembentukannya yang tidak konsisten. Saya belum memeriksa bagaimana hal ini dipaparkan di dalam edisi ketiga KBBI.
Anda benar, ketidakkonsistenan para penulis dalam hal seperti ini memang potensial untuk mengemuka. Akan tetapi, para penulis/wartawan yang bekerja pada media massa yang sama seharusnya dapat memilih kata mana yang mereka yakini benar. Lagi pula, bukankah ada penyunting (editor) yang dapat mengontrol hasil tulisan sebelum dipublikasikan?
Saya menemukan sebuah tulisan yang memilih kata “memposisikan” pada sebuah paragraf lalu menulis kata “memosisikan” pada paragraf lainnya. Ada juga yang menulis “memerkosa” dan “memperkosa” pada sebuah artikel utuh. Pendapat seseorang memang bisa berubah, tetapi jelas kasus tersebut tidak termasuk dalam ungkapan ini.
29-09-2005 @ 20:04
ow… gituh…
aduh, coba polisieyd sudah ada sejak didats masih sekolah..
bahasa indonesia bisa bagus nilainya.. =))
29-09-2005 @ 22:49
Saya pikir “pemukiman” dan “permukiman” keduanya benar, tetapi artinya berbeda.
“Permukiman” artinya “hal bermukim”, seperti “perdagangan” ialah “hal berdagang”. Sementara “pemukiman” artinya “tempat bermukim”. Jadi untuk kasus jatuhnya pesawat Mandala, saya memilih “jatuh di pemukiman”, sementara untuk kementerian, saya memilih “permukiman”.
30-09-2005 @ 10:08
#12: Menurut KBBI, “permukiman” dapat berarti keduanya: ‘daerah tempat bermukim’ dan juga ‘hal bertalian dengan bermukim’. Sedangkan “pemukiman” berarti ‘proses atau tindakan memukimkan’. Contoh pada kalimat adalah “Pemukiman kembali penduduk yang terkena bencana alam akan segera dilaksanakan”.
Jadi untuk merujuk pada tempat, “permukiman” adalah bentuk yang benar.
Lalu, mengapa ada kata “pedesaan”, bukan “perdesaan”, sementara kita mengenal “perkotaan” bukan “pekotaan”? *nah*
15-01-2006 @ 23:10
Tetangga saya menyewakan peralatan pesta. Di depan rumah terpampang papan bertulisan “Persewaan Peralatan Pesta”.
Saya rasa bentukan di atas seharusnya “Penyewaan Peralatan Pesta”. Kata sewa bisa diturunkan menjadi menyewa - menyewakan - penyewa - penyewaan.
Di tempat lain, saya juga menemui papan yang bertulisan sama: PERSEWAAN sound system…
Tapi agak mending, tulisan sound system-nya benar. Ada juga yang menulis SOUND SISTEM. Wah….
08-03-2006 @ 22:02
Menurut KBBI edisi 3:
“Simpulan” berarti 1) sesuatu yang disimpulkan/diikatkan; 2) hasil menyimpulkan; kesimpulan.
“Kesimpulan” berarti 1) ikhtiar (dr uraian, pidato, dsb); kesudahan pendapat (pendapat terakhir yg berdasarkan pd uraian sebelumnya); 2) keputusan yg diperoleh berdasarkan metode berpikir induktif atau deduktif: ia sudah dapat menarik kesimpulan dengan baik.
08-03-2006 @ 22:13
Masih menurut KBBI edisi 3:
“Putusan” berarti hasil memutuskan: berdasarkan putusan pengadilan, dia dibebaskan.
- Putusan akhir
- Putusan lepas
- Putusan pengadilan
- Putusan sela
“Keputusan” berarti
1) perihal yg berkaitan dng putusan; segala putusan yg telah ditetapkan (sesudah dipertimbangkan, dipikirkan, dsb): jaksa itu sulit menerima keputusan hakim.
2) ketetapan; sikap terakhir (langkah yg harus dijalankan): ia tidak berani segera mengambil keputusan.
3) kesimpulan (tt pendapat): dari catatan itu diambil keputusan bahwa dia memberi kesempatan kpd pegawainya untuk melakukan perbuatan pidana.
4) hasil pemeriksaan (tt ujian): keputusan ujian akan diumumkan melalui surat kabar.
Tapi saya tetap bingung ya…
05-04-2006 @ 12:03
Menurut saya, simpulan merupakan hasil menyimpulkan, mengikhtisarkan, menyarikan
(bisa dikatakan benda konkretnya), sedangkan kesimpulan adalah menyimpulkan, mengikhtisarkan, atau menyarikan berbagai hal dalam bacaan, pidato, atau diskusi
Contoh dalam kalimat:
Buatlah kesimpulan dari bacaan di atas!
Kesimpulan dari bacaan itu dinamakan “simpulan”.
Bagaimana menurut Anda?
06-06-2006 @ 16:17
Ada nggak sisipan “ah” dalam EYD? Seperti kata baru yang disisipi “AH” dalam “memperbaharui”…
06-06-2006 @ 16:18
Ada nggak sisipan “ah” dalam EYD? Seperti kata baru yang disisipi “AH” dalam “memperbaharui”…
19-09-2006 @ 7:38
bingung…
27-12-2006 @ 21:04
Bentuk memperbaharui itu yang salah Mas. Jd harusnya gak ada sisipan “AH” dalam kata itu.
Kan kata dasarnya “baru”, bukan “baharu”. Jadi harusnya memperbarui. Begitu….
10-03-2007 @ 14:15
Seperti ‘pemukiman’ dan ‘permukiman’, kesalahan yang tidak pernah dirasakan salah adalah bentuk “pemakaman”. Pernahkah kita mendengar “Tempat Permakaman Umum”? Mengapa makna “permakaman” dan “pemakaman” disamakan? Pan beda atuh!
Tendy
13-08-2007 @ 14:19
yang aq tw kata permukiman itu sering dipergunakan oleh dosen-dosen qu yang ud nerusin study di UGM… mungkin karena beda lidah aja kale antara jawa dan sunda tapi makna kata nya sama…
08-09-2007 @ 9:31
Saya fikir penggunaan kata ketidakkonsistenan ngawur sekali. Konsisten sebagaimana kata serapan sebaiknya menggunakan pola asalnya mejadi inkonsistensi. Tolong dikomentari.
11-11-2007 @ 7:34
Yg bener ‘ke luar negeri’ ato ‘keluar negeri’ kak polisi? Kakak pngajar bimbel saya ngotot klo yg bener ‘keluar negeri’ tp kakak yg lain blg yg bener ‘ke luar negeri’, kasihan kami klo pas UAN ikutan yg sesat.
Oh ya, satu lg, yg bener ‘Hasanudin, Sultan Makasar’ ato ‘Hasanudin, sultan Makasar’ ato gimana?
Jwb yah kk polisi, makasii!
15-11-2007 @ 23:46
Ke luar negeri:
terdiri dari awalan ke- dan kata benda yang menunjukkan tempat, yaitu ‘luar negeri’. Kelompok kata ini berfungsi untuk menunjukkan tempat/arah/tujuan dari suatu kegiatan.
Keluar negeri:
terdiri dari kata kerja ‘keluar’ + kata benda ‘negeri’ yang digunakan untuk menyatakan suatu tindakan keluar. Negeri di sini adalah wilayah yang mempunyai batas yang dilewati oleh kegiatan ‘keluar’.
Penggunaan keduanya pun berbeda:
‘Ke luar negeri’ seharusnya didahului dengan kata kerja ‘pergi’. Misalnya, “Kemarin ayah pergi ke luar negeri.”
Sementara ‘keluar negeri’ tidak membutuhkan kata kerja yang menduhuluinya. Misalnya, untuk pertanyaan “Apa yang biasanya kau lakukan ketika libur?” bisa dijawab dengan “Keluar negeri.”
19-11-2007 @ 19:39
pemukiman dan permukiman. mana yang benar ? terjadi perdebatan sengit ketika diskusi mahasiswa di kelas saya buka untuk sesi analisis bahasa yang baik dan benar. berbagai kontradiksi membuat persepsi yang berbeda-beda. dan itulah ragam bahasa kita.
11-01-2008 @ 18:37
permungkiman dan pemukiman merupakan 2 kata yang berbeda artiny loch! dan keduanya ada dalam penggunaan bahasa indonesia. jadi kalau mau tau penggunaan yang benar dalam suatu kalimat kita liat dulu arti dari keduanya
03-02-2008 @ 20:43
#25 keluar negeri? bimbel mana tuh yang bilang bener?
antonim luar adalah dalam
luar negeri vs dalam negeri
(keluar negeri vs kedalam negeri???)*
SEDERHANA BUKAN?
setuju komentar lengkap #26
23-04-2008 @ 10:41
saya bukan ahli bahasa tapi boleh ya berpendapat.
mengenai kata permukiman,
guna dari PER dan PE bukanya sangat jauh berbeda. Kenapa musti menggunakan pendapat sendiri-sendiri.
Kita gunakan saja PER dan PE pada tempatnya,
apakah arti per pada permukiman sama pada pergaulan?
apakah masih bisa dipenggunakan pada kata perkapital, atau peranan, perjaka?
Jika per di sini memiliki arti yang sama berarti sudah jelas jika per juga menunjukkan sebuah bentuk yang lebih dari satu.
Contoh untuk per:
Perkara: berarti masalah yang di timbulkannya luas.
Perundang-undangan: berarti isi kandungan di dalamnya mungkin pasal atau ayatnya banyak.
Perdagangan: berarti banyak aktifitas jual beli di sana.
Sebagai bukti yang paling kuat jika kata per adalah kata yang merujuk hal yang lebih dari satu adalah kata: “Perkawinan” apakah bisa seorang kawin sendirian?
Ini yang membuat saya berpendapat jika per hanya merujuk kesebuah prihal yang lebih dari satu.
Jika haya ada satu rumah di sana, tidak di sebut perumahan.
Jika haya satu orang yang bermukim di sebuah tempat maka tidak layak jika tempat itu disebut permukiman.
Kata permukiman berarti ada banyak pemukim di sana. Sementara kata pemukim tidak harus banyak. Jika ingin menunjukkan bahwa pemukim itu banyak maka harus menggunakan kata para pemukim.
Antara permukiman dan pemukiman tidak bisa disamakan, “permukiman merujuk kesebuah tempat yang banyak pemukimnya”
Sama hal menyebut “pemakaman” jelas pemakaman adalah ritual dari penguburan jenazah.
Jika menyebut makam adalah tempat pemakaman ya benar, karena arti pe di sini menunjukan aktifitas dari yang memakamkan, jadi sebuah tempat upacara untuk memakamkan di sebut pemakaman, tapi untuk menyebut tempat tinggalnya jenazah bukan pemakaman melainkan pe•ku•bur•an yaitu tempat yg luas yg khusus digunakan untuk menguburkan mayat;
23-04-2008 @ 10:59
untuk
13 Polisi EYD.
tadinya saya menyimak perbincangan ini untuk manambah wawasan saya,
tapi saya jadi kurang begitu tertarik ketika anda berkomentar “Lalu, mengapa ada kata “pedesaan”, bukan “perdesaan”, sementara kita mengenal “perkotaan” bukan “pekotaan”? *nah*
di sini saya menghakimi anda dengan fulgar, jika anda kurang pintar.
dalam kamus bahasa Indonesia tercatat jika.
pe·de·sa·an n daerah permukiman penduduk yg sangat dipengaruhi oleh kondisi tanah, iklim, dan air sbg syarat penting bagi terwujudnya pola kehidupan agraris penduduk di tempat itu;
sementara
per·de·sa·an adalah daerah (kawasan) desa
saya tidak menghujat, tapi sebaiknya kita taruh penggunaannya secara benara,
pedesaan dan perdesaan tidak bisa di samakan,
jika anda tinggal Jakarta misalnya, anda kurang tepat jika menyebut desa atau kelurahan kebun kacang(tanah abang) dengan nama pedesaan, tapi sangat tepat jika anda menyebut desa Sindang laya kecamatan Cipanas-Bogor dengan kata pedesaan. suasana alam yang mendukung sebuah tempat menjadi pantas atau tidak di sebut perdesaan atau pedesaan, karena artukulasinya sangat jauh berbeda.
18-05-2008 @ 18:11
Bukankah “pedesaan” sering disejajakan dengan “perkotaan”?
18-05-2008 @ 18:13
“ke luar negeri”
“keluar negeri”
Lawan dari “luar” adalah “dalam”. Maka lawan dari “ke luar negeri” adalah “ke dalam negeri”.
Lawan dari “keluar” adalah “masuk”, maka lawan dari “keluar negeri” adalah “masuk negeri”, sebagaimana lawan dari “keluar kandang” adalah “masuk kandang”.
18-05-2008 @ 19:02
saya juga mau menanyakan nih bentuk yang baku
mencontek atau menyontek,
soalnya kalau saya cek di KBBI mencari kata contek merujuk ke kata sontek dan di kata sontek ada kata menyontek.