Investasi Sarjana Teologi

Minggu ini saya menerima dua email yang menurut saya menarik. Email pertama dari Pujiono, menanyakan asal usul istilah investasi. Saya kutip saja email dari beliau.

Saya mau bertanya tentang kata investasi. Google mencatat kata investasi muncul sebanyak 821,000 kali di dunia maya. Tentu ini jumlah yang besar, khan?

Kalau ditelusuri, kata investasi ini mem[p]unyai padanan kata bahasa Inggris investment. Namun, mengapa kata bentukan dalam bahasa Indonesianya kok sangat berubah, ya? Mengapa kita tidak menerjemahkannya menjadi invesmen seperti analogi commitment menjadi komitmen?

Oh, mungkin kata investasi bukan dari bahasa Inggris. Oke, coba kita telusuri lagi. Ternyata, kata investasi alias investment ini mem[p]unyai padanan sebagai berikut: investering (Belanda), investissement (Prancis), investition (Jerman), investimento (Italia), investimento (Portugis), inversión (Spanyol).

Wah, ternyata tidak ada satu kata pun yang nyaris sama dengan kata bentukan orang Indonesia atas padanan kata investment.

Pertanyaan saya:
1. Apakah kata bentukan investasi itu benar secara etimologis?
2. Bagaimana asal usul munculnya kata investasi?

Saya belum tahu jawaban atas dua pertanyaan ini. Akhiran -(a)si biasanya muncul sebagai hasil serapan dari akhiran -(a)tion atau -ir. Jadi, jika benar -asi pada kata investasi adalah hasil serapan dari akhiran -ation, maka asal katanya adalah investation. Apakah kata ini dikenal dalam bahasa Inggris? Saya tidak menemukannya di dalam kamus yang saya miliki.

KBBI sendiri mencatat kata investasi sebagai sebuah lema yang maknanya serupa dengan kata investment dalam bahasa Inggris.

Ada yang bersedia urun pendapat tentang hal ini?

Email kedua dari Adi Kurniawan, berisi pertanyaan tentang gelar sarjana teologi di Indonesia yang disingkat “S.Th.”. Beliau menanyakan keberadaan huruf ‘h’ di dalam singkatan gelar tersebut.

Saya menduga, huruf ‘h’ di sana diambil dari huruf ‘h’ pada kata ‘theology’. Orang sering kali keliru menyerap kata ini menjadi ‘theologi’ sehingga muncul penulisan gelar seperti itu. Kata ‘theology’ diserap menjadi ‘teologi’ dalam bahasa Indonesia.

Karena berbahasa Indonesia, sepatutnyalah gelar tersebut diubah mengikuti kaidah yang disepakati, misalnya menjadi ‘S.Teo.’ atau yang lainnya.

Bagaimana pendapat Anda?

21 komentar »


  1. Saya ini berkomentar,

    Menurut saya imbuhan “-asi” atau “-isasi” sudah mendarah-daging dengan Bahasa Indonesia. Jadi tidak sebatas penyerapan lagi, namun pembentukan kata asali Indonesia pun bisa. Penyerapan kata-kata asing pun bisa bermacam-macam. Hal ini kita lihat dari: “swastanisasi”, “reboisasi”, “elektrisasi” (dari electrify). Sebenarnya banyak kata-kata seperti ini yang belum lama ini terpikirkan tapi sekarang sudah lupa… nanti deh kalau ingat kuposkan di sini.

  2. Saya ini berkomentar,

    Eh ngomong-ngomong,
    investation
    kb. gangguan, serbuan (of insects).
    Begitu tertulis di kamusku…

  3. Saya ini berkomentar,

    Oh ini ada kata lain. Kalau memang kata “rutinitas” itu baku, saya ingin tahu ia diserap dari mana. Karena Bahasa Inggris menjelaskan bahwa “routine” adalah kata benda bukan adjektiva seperti kata “rutin” di Indonesia.

  4. Polisi EYD berkomentar,

    #1: Hal yang mendarah daging tidaklah harus selalu benar, kecuali jika itu sudah menjadi kesepakatan yang diakui. Itulah mengapa bahasa disebut-sebut bersifat manasuka: mana yang disukai masyarakat penutur bahasa, itulah yang dipakai, terlepas dari apakah hal tersebut benar atau tidak.

    Contohnya kata “kuningisasi” dan “ayamisasi”, kedua kata ini sudah populer di sebagian masyarakat. Saya berpendapat kata ini tidak mengikuti kaidah karena kata dasarnya bukanlah berasal dari bahasa asing. Mengapa kita tidak menyebutnya “program pemerataan warna kuning” dan “usaha memasyarakatkan ayam”? Ingin asal menyingkat saja, mungkin? :)

    #2: Eh, bukankah itu “infestation”?

    #3: Kata “rutin” dalam bahasa Indonesia juga adalah kata benda. Akhiran “-ty” diserap menjadi “-tas”. “Universitas” berasal dari “university”, dan “rutinitas” berasal dari “routinity”. Kata ini lebih populer dibandingkan kata “kerutinan” yang disarankan KBBI.

  5. Saya ini berkomentar,

    #1: Benar sekali, seharusnya kita lebih memilih menggunakan imbuhan Indonesiawi ketimbang imbuhan asing. “Penguningan” lebih enak didengar. Lantas, bagaimanakah nasib imbuhan: “awa”, “lir”, “tan”, “nir” (untung sudah mulai digunakan), “mala”, “kahat”, dsb. ?

    #2: Benar kata Anda, “infestation” adalah kata yang dimaksud. Mohon maaf, program Kamus saya ini diproduksi oleh orang dalam negeri… rasanya tidak bisa diandalkan.. Hahaha.. bukannya menyinggung lho…

    #3: Saya tidak menemukan kata yang Anda maksud. http://dictionary.reference.com/search?q=routinity silakan cek.

  6. kusaeni berkomentar,

    Tentang Sth .. memang harusnya di “pelintir” juga ke dalam bahasa Indonesia , dan untuk itu maka beberapa gelar ke sarjanaan semacam PhD juga.

    Asal S .Th nya tidak berubah menjadi S. Teh ( baca eS TeH)

    salam kenal.

  7. Saya ini berkomentar,

    #4: - Saya setuju sekali dengan pendapat benar Anda. Tidak perlu menggunakan imbuhan berbudaya asing. Bukankah lebih Indonesiawi apabila kita menggunakan imbuhan nasional? Apa daya sebuah bahasa tanpa pengguna. Saya sangat menyayangkan keterlantaran imbuhan-imbuhan selayaknya: awa-, lir-, mala -, tan-, nir-, dan kahat -. Bagaimana pendapat Anda?

    - Sekali lagi Anda benar dengan kata “infestation” bukan “investation”. Mohon dimaklumi karena program kamus yang saya pakai merupakan peranti cuma-cuma hasil karya seorang mahasiswa. Saya sangat menghargai hasil karyanya namun ternyata kurang akurat (kahat-keakuratan!).

    - Nah, untuk hal ini saya masih belum jelas. Jika “rutin” merupakan nomina alias kata benda, apakah artinya dan bisakah kita mengatakan, “Yang saya lakukan adalah sebuah rutin”? Saya rasa tidak bisa atau tidak umum terdengar dicakapkan, sebaliknya yang wajar misalnya: “Pekerjaan rutin”, “Kegiatan rutin”. Sedangkan bahasa Inggris “routine” adalah kata benda sehingga kalimat: “This is my routine” atau “It is a routine” adalah baku. Kata ini juga berlaku sebagai adjektiva, tapi ada kata lain yaitu “routinely” yang jarang sekali digunakan. Saya berusaha mencari kata “routinity” sebagaimana telah saya lakukan beberapa kali sebelumnya (cikal bakal keheranan saya) tapi menemukan hasil nihil. Jadi menurut saya penggunaan di Indonesia (”sebuah rutinitas” alih-alih “sebuah rutin”) adalah kurang tepat alias membentuk kata sendiri. Saya setuju untuk kata “kerutinan” untuk menjaga kekonsistenan pembentukan kelas kata.

  8. Polisi EYD berkomentar,

    #5: Mohon maaf sebelumnya, rupanya program moderasi komentar di blog ini cukup peka sehingga komentar Anda yang ini otomatis dimoderasi.

    Imbuhan-imbuhan yang Anda sebutkan memang sudah mulai dipakai meskipun masih terbilang jarang. Apa yang salah dengan bahasa Indonesia? Kompas Minggu kemarin mengulas dengan baik kecenderungan penutur bahasa kita dalam menggunakan bahasa dan peristilahan asing, alih-alih bahasa milik sendiri.

    Mengenai “routinity”, ternyata kamus saya pun tidak lebih baik. Haha. Anda yang lebih mengenal bahasa Inggris mungkin lebih paham tentang hal ini dibandingkan saya. Kalau begitu, kata “routinity” yang dipakai banyak orang itu tidak tepat, ya?

    Rutin dalam KBBI adalah nomina yang berarti ‘prosedur yang teratur dan tidak berubah-ubah; hal membiasanya prosedur, kegiatan, pekerjaan, dsb.’. Dengan makna seperti itu, seharusnya kalimat “Yang saya lakukan adalah sebuah rutin” dapat dibenarkan. Namun Anda betul, hal tersebut tidak umum dilontarkan.

    #6: Gelar yang diperoleh dari institusi luar negeri rasanya tidak begitu saja bisa “dipelintir” menjadi berbahasa Indonesia, seperti “Ph.D.” yang Anda sebutkan. Salam kenal juga. :)

  9. gre berkomentar,

    saya sedang jatuh cinta. karenanya ijinkan untuk bertanya tentang :

    pe + c..

    pe + cinta = pencinta? pecinta?
    pe + catat = pencatat? penyatat?
    pe + cegah = pencegah? penyegah?

    me + c..

    me + cicil = menyicil? mencicil?
    me + cuci = mencuci? menyuci?
    me + colok = mencolok? menyolok?
    me + celetuk = mecceletuk? menyeletuk?

    me + s..

    me + sapu = menyapu
    me + sisir = menyisir
    me + sinyalir = menyinyalir? mensinyalir?

    kata ulang

    centang-perenang? centang-perentang?
    centang perenang? centang perentang?

    apakah penulisan ‘mem-phk’ dibenarkan?

    maaf bila pertanyaan keluar dari topik perbincangan. dan sekedar mengusulkan, bapak/ibu polisieyd (seharusnya diberi spasi bukan?) menyediakan sebuah kotak bertanya.

    serukan gerakan ‘berbinar’ berbahasa indonesia dengan benar.

  10. Saya ini berkomentar,

    #9: Yang benar mengenai aturan Bahasa Indonesia setahu saya adalah kata dasar berawalan c tidak luluh. Misal: “Mencuci” bukan “Menyuci” (itu “Menyucikan” dari kata “Suci”).

    Sedikit usul dari saya: sebaiknya [Pronomina] Polisi EYD membuat sebuah artikel yang membahas secara detil dan menyeluruh imbuhan2 beserta peluluhannya sehingga para pengguna yang sudah melupakan materi pelajaran BI di SD atau sekolah menegnahnya bisa menjernihkan ingatan mereka kembali.

    #8: Haha, btw, sedikit perkenalan, saya beresidensi di Australia Barat (sedang berstudi).. hahaha…

  11. Polisi EYD berkomentar,

    #9: Hanya kata-kata dasar yang diawali huruf k, p, t, dan s yang luruh jika diberi awalan pe- atau me-. Jadi, kata turunan yang benar adalah “pencinta”, “pencatat”, “pencegah”, “mencicil”, “mencuci”, “mencolok”, dan “menceletuk”.

    Kata “sinyalir” ini memang “ajaib”. Kalau ingin mengikuti kaidah, tentu “menyinyalir” yang benar. Namun kata tersebut jadinya susah di lidah dan tak enak di telinga, ya? Kata “mensinyalir” lebih akrab tetapi tidak taat asas. Juga kata “mempunyai”, mengapa tidak “memunyai”? Saya kira demi rasa bahasa, kata-kata tersebut masih bisa diperkecualikan. Meskipun kemudian akan timbul pertanyaan lanjutan: siapa yang berhak mengukur rasa bahasa yang kita pergunakan? :D

    Kata ulang “centang-perenang” yang benar. “PHK” adalah sebuah singkatan sehingga penulisan “mem-PHK” dibenarkan.

    Usul Anda tentang penyediaan kotak khusus untuk mengajukan pertanyaan baik sekali. Namun saya tidak tahu bagaimana membuatnya di blogsome. :) Mungkin usulan untuk menyediakan domain dan hosting mandiri layak dipikirkan lebih jauh, nih. Jadi untuk sementara, gunakan saja ruang komentar yang ada, tidak apa-apa. Atau kalau enggan, Anda juga bisa mengirimkan email.

    Gerakan “Berbinar” yang Anda lontarkan menarik sekali. :)

    #10: Usulan Anda tentang tulisan mengenai imbuhan layak dituruti. Barangkali Anda mau menyumbang tulisan tersebut? Dengan senang hati saya terima. :)

  12. Pujiono berkomentar,

    uh, pertanyaan saya tidak terjawab juga. Mungkin ini yang namanya “anomali” bahasa Indonesia. Sebaiknya kita menggunakan kata “penanaman modal” saja untuk menggantikan kata “investasi” yang selama ini merupakan terjemahan “investment” dari bahasa Inggris.

    Ngomong-ngomong, KOMPAS minggu lalu menurunkan dua tulisan panjang tentang cengkarutnya Bahasa Indonesia. Mungkin sebaiknya ditautkan oleh Polisi EYD. Bagaimana?

  13. sandy berkomentar,

    Salam kenal. Saya Sandy, mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di Jepang.
    Mengenai imbuhan,
    kalau kata “cundang”, pengimbuhannya bagaimana?
    pe- + cundang = pecundang atau pencundang?
    lalu
    me- + cundang = mencundang kok jarang terdengar sedangkan kata “mempecundangi” kok sering terdengar ya?

    Ada lagi.
    Di artikel yang lain tertulis:
    memrihatinkan bukan memprihatinkan
    memroses bukan memproses
    memrogramkan vs memprogramkan –> masih kurang jelas
    lalu,
    memrotes? memprotes?
    mempromosikan? memromosikan?
    memroduksi? memproduksi?
    memropaganda? mempropaganda?
    memrovokasi? memprovokasi?
    dan masih banyak lagi mempro- yang lain. Apakah tidak ada keseragaman?

    Mohon penjelasan yang lengkap (kalau boleh, penjelasan yang sudah fix dimuat dalam satu artikel baru dan diberi kesimpulan). terima kasih sebelumnya.

  14. Pujiono berkomentar,

    Polisi EYD Yth.,
    Tolong dibahas juga dong tentang Sportivitas (577 kali muncul di Google) vs Sportifitas (1030), Aktivitas (861.000) vs Aktifitas (107.000).

    Ternyata, dalam pengamatan secara selintas, bentukan yang benar justru jumlahnya lebih sedikit. Wah, gejala apa ini?

  15. Saya ini berkomentar,

    Bagaimana dengan “pathogen” yang banyak justru kata “patogen” di Google. Bagaimanakah seharusnya kita menyerap kata asing seperti ini yang berhuruf “h” di tengah?

  16. Polisi EYD berkomentar,

    #15: Unsur ‘th’ memang diserap menjadi ‘t’ meskipun terletak di tengah. ‘Orthography’ menjadi ‘ortografi’ dan ‘pathogen’ menjadi ‘patogen’.

  17. Enzyv berkomentar,

    Menurut saya masyarakat kita kurang menghargai bahasa sendiri yang kita tahu bahwa bahasa indonesia adalah harta yang tak ternilai. Saya sangat sependapat dengan gagasan mengayakan pengunaan bahasa Indonesia dibandingkan mengikuti dan mengunakan pembentukan kata yang mengikuti bahasa asing. Misalnya apa yang hangat2nya didiskusikan di sini!. Sebelumnya salam kenal buat semua,
    Yang mau belajar lagi bahasa Indonesia……….

  18. okky berkomentar,

    Hai, saya okky,seorang mahasiswa perpajakan,saya ingin bertanya tentang imbuhan ter+percaya=terpercaya.Apakah bentuk terpercaya ini sudah benar? Sewaktu saya masih SMP, guru bahasa Indonesia saya (kebetulan beliau sangat teliti mengenai EYD) mengatakan bahwa bentuk yang benar ialah ‘tepercaya’ karena huruf ‘r’ pada imbuhan ter- menajdi luluh. Tapi ketika SMA saya diajari oleh guru saya sesuai dengan teori yang ada di depan? Jadi, manakah yang sesuai EYD?

  19. Polisi EYD berkomentar,

    #18: Bentuk yang benar adalah “terpercaya”, seperti juga “terpengaruh”, atau “terpelihara”.

  20. Coba berkomentar,

    Sebelumnya lam kenal muanya.
    Persoalan padanan kata “investment” dalam bahasa Indonesia sama dengan “effectivenes”. Pemadanan bahasa Indonesianya agak berbeda dari yang umum (misal, akhiran -ment (Inggris) menjadi -men (Indonesia), -ity(Inggris) menjadi -tas (Indonesia) dan sebagainya).
    Dari sekian penjelasan yang sudah ada, semuanya terkait dengan aturan formal bahasa. Nah, kalau menurut saya mengapa pemadanan untuk kata-kata seperti ini (investment, effectiveness) berbeda dari yang umum “mungkin” lebih disebabkan oleh proses adaptasi oleh orang Indonesia. Mungkin kata “investasi” lebih mudah diujarkan daripada “invesment”.

  21. Benny berkomentar,

    saya setuju kalau S.Th diganti jadi S.Teo atau kenapa tidak sekalian S.T.?


Komentar Anda:


Alamat e-mail tidak akan ditampilkan, HTML yang diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>