01-10-2005
Investasi Sarjana Teologi
Minggu ini saya menerima dua email yang menurut saya menarik. Email pertama dari Pujiono, menanyakan asal usul istilah investasi. Saya kutip saja email dari beliau.
Saya mau bertanya tentang kata investasi. Google mencatat kata investasi muncul sebanyak 821,000 kali di dunia maya. Tentu ini jumlah yang besar, khan?
Kalau ditelusuri, kata investasi ini mem[p]unyai padanan kata bahasa Inggris investment. Namun, mengapa kata bentukan dalam bahasa Indonesianya kok sangat berubah, ya? Mengapa kita tidak menerjemahkannya menjadi invesmen seperti analogi commitment menjadi komitmen?
Oh, mungkin kata investasi bukan dari bahasa Inggris. Oke, coba kita telusuri lagi. Ternyata, kata investasi alias investment ini mem[p]unyai padanan sebagai berikut: investering (Belanda), investissement (Prancis), investition (Jerman), investimento (Italia), investimento (Portugis), inversión (Spanyol).
Wah, ternyata tidak ada satu kata pun yang nyaris sama dengan kata bentukan orang Indonesia atas padanan kata investment.
Pertanyaan saya:
1. Apakah kata bentukan investasi itu benar secara etimologis?
2. Bagaimana asal usul munculnya kata investasi?
Saya belum tahu jawaban atas dua pertanyaan ini. Akhiran -(a)si biasanya muncul sebagai hasil serapan dari akhiran -(a)tion atau -ir. Jadi, jika benar -asi pada kata investasi adalah hasil serapan dari akhiran -ation, maka asal katanya adalah investation. Apakah kata ini dikenal dalam bahasa Inggris? Saya tidak menemukannya di dalam kamus yang saya miliki.
KBBI sendiri mencatat kata investasi sebagai sebuah lema yang maknanya serupa dengan kata investment dalam bahasa Inggris.
Ada yang bersedia urun pendapat tentang hal ini?
Email kedua dari Adi Kurniawan, berisi pertanyaan tentang gelar sarjana teologi di Indonesia yang disingkat “S.Th.”. Beliau menanyakan keberadaan huruf ‘h’ di dalam singkatan gelar tersebut.
Saya menduga, huruf ‘h’ di sana diambil dari huruf ‘h’ pada kata ‘theology’. Orang sering kali keliru menyerap kata ini menjadi ‘theologi’ sehingga muncul penulisan gelar seperti itu. Kata ‘theology’ diserap menjadi ‘teologi’ dalam bahasa Indonesia.
Karena berbahasa Indonesia, sepatutnyalah gelar tersebut diubah mengikuti kaidah yang disepakati, misalnya menjadi ‘S.Teo.’ atau yang lainnya.
Bagaimana pendapat Anda?
