15-11-2005
Maaf Lahir Batin
Biarpun terlambat, saya ingin menyampaikan selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf atas kesalahan, baik lahir maupun batin.
Beberapa hari sebelum dan sesudah lebaran, salah satu frase yang paling sering diucapkan atau ditulis adalah “maaf lahir dan batin”, atau ada pula yang menulisnya “maaf lahir dan bathin“.
Jika kita ingin berpegang pada kaidah unsur serapan, maka kata yang benar adalah batin, bukan bathin. Huruf dalam bahasa Arab memang membedakan bunyi t dan th sehingga bisa jadi artinya menjadi berbeda pada beberapa kata yang lain. Dan rasanya belum afdal jika kita tidak menulisnya dengan bathin.
Demikian pula dengan kata lain seperti salat, azan, hadis, Ramadan, dan magrib, lebih banyak orang yang senang menuliskannya dengan shalat, adzan, hadits, Ramadhan atau Ramadlan, dan maghrib.
Dalam hal ini, perlukah kata pungut dari bahasa Arab diperkecualikan dari kaidah unsur serapan?
Tambahan: Abdul Gaffar Ruskhan membuat sebuah tulisan yang membahas unsur serapan bahasa Arab dalam bahasa Indonesia.

15-11-2005 @ 9:18
Maaf lahir dan batin juga. Blog ini jarang diupdate gara-gara polisinya mudik, ya? Kalo polisi lalin sih nggak boleh cuti selama lebaran…
15-11-2005 @ 17:53
weks… masih bisa ngasih ilmu juga saat lagi maaf-maafan? salut buat polisi eyd…!
15-11-2005 @ 23:39
Pak Pulisi emang mudik kepana sih?
16-11-2005 @ 19:58
jadi kesimpulan apa? bagaimana menulis kata-kata serapan seperti itu?
salat? shalat? atau sholat?
18-11-2005 @ 11:27
Apakah kata “frase” bila di serap akan berubah menjadi “frasa”?
Tersediakah padanan untuk kata tersebut?
19-11-2005 @ 21:29
menurut saya, penulisan kata serapan bahasa arab sebaiknya menggunakan pedoman transliterasi huruf arab ke huruf latin yang diakui secara formal. Sebagai contoh, di beberapa buku Pak Quraish Shihab ada pedoman khusus ini. Meskipun demikian saya belum pernah dengar ada kaidah resmi transliterasi huruf ini dalam kaidah bahasa Indonesia.
20-11-2005 @ 4:06
Blog yang sungguh sangat unik. Pun menarik. hehe
ciao…
20-11-2005 @ 8:05
#6 ada kok pedoman transliterasinya: Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri P&K Nomor 158/1987, Nomor 0543b/U/1987 tentang Pedoman Transliterasi Arab Latin.
Emang sulit mencari karena kelihatannya tidak begitu tersosialisasikan (atau…?). Buat teman-teman yang ada di Indonesia, tolong carikan deh.
23-11-2005 @ 21:42
pak,tanya ya.boleh kan?
merah manyala atau merah menyala?
seksama atau saksama?
artinya seksama/saksama itu apa mnurut kamus besar bahasa Indonesia?thanx………
27-11-2005 @ 9:36
Menurut saya, si orang awam ini:
Merah menyala.
Seksama.
Seksama = dengan penuh perhatian (carefully, attentionally, with attention)
ciao
29-11-2005 @ 10:40
#9, #10: Frasa yang benar adalah “merah manyala” dan “saksama”.
Manyala berarti tampak cemerlang, mencolok. Namun, “merah menyala” pun sepertinya bisa dipakai.
Saksama berarti teliti, cermat; dapat pula berarti jitu. “Seksama” adalah bentuk yang tidak baku.
07-01-2006 @ 16:07
adakah yg tahu, suatu alat/tools yg bisa menghasilkan output transliterasi kata/klt bhs arab ke huruf latin ?