Kreatif dan Kreativitas

Perhatikan beberapa petikan paragraf berikut ini.

Sebagai pekerja seni, Pablo Picasso, Lord Byron, dan Dylan Thomas memiliki kreatifitas yang lebih besar dibanding umumnya orang. (Kompas)

Menurut saya tidak semua keisengan itu sifatnya negatif, walaupun konotasinya cenderung demikian. Keisengan bisa jadi medium ekspresi kreatifitas seseorang. (ronny.haryan.to: Iseng dan Kreatifitas)

Berbagai perlombaan yang melibatkan kreatifitas pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) seluruh Kabupaten Bekasi meriahkan kawasan Lippo Cikarang. (Tempo Interaktif)

Kagum banget deh, dengan para peserta yang menampilkan kreatifitasnya, walaupun sambil di guyur hujan. (dinny’s blog)

Kita mengenal kata kreatif yang diserap dari kata creative. Akhiran -ive atau -ief (Belanda) memang disesuaikan menjadi -if sehingga terbentuklah kata-kata serapan seperti kreatif, demonstratif, aktif, dan selektif. Setelah diserap, kata-kata tersebut dapat kita beri imbuhan menjadi kekreatifan, pengaktifan, dan lain-lain.

Namun, ketika menyerap sebuah istilah asing yang berakhiran, kita harus menyerap akhiran pada kata tersebut sebagai bagian kata yang utuh di dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian kata creativity akan kita serap menjadi kreativitas, bukan kreatifitas (unsur v tetap diserap menjadi v dan akhiran -ty menjadi -tas).

Contoh kata serapan lain yang senasib antara lain aktif dan aktivitas (bukan aktifitas), sportif dan sportivitas (bukan sportifitas), sensitif dan sensitivitas (bukan sensitifitas), produktif dan produktivitas (bukan produktifitas).

Oh ya, pada petikan ke-4, “di guyur hujan” seharusnya ditulis “diguyur hujan”.

Tolak Ukur?

Berikut ini adalah beberapa petikan paragraf yang saya petik dari beberapa artikel.

“Ini penting sebagai tolak ukur, pendekatan kualitatif, yang selama ini ada,” kata Deddy mengomentari Festival Film Indonesia (FFI) yang diselenggarakan oleh Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) tersebut. (Republika)

Rekor-rekor itu terdapat pada produk IBM TotalStorage DS8300 dan IBM TotalStorage SAN Volume Controller (SVC) yang dikatakan mencapai hasil tolak ukur industri tertinggi yang disebut SPC-1. (detikinet.com)

Bahkan, Anugerah Sagang merupakan satu-satunya anugerah yang dijadikan sebagai kualitas tolak ukur bagi para pekerja seni. (Riau Pos)

Tolak berarti sorong atau dorong. Jika kata ini digabungkan dengan kata ukur, hasilnya adalah kata yang tidak memiliki makna, atau setidaknya maknanya tidak sesuai dengan apa yang ingin disampaikan.

Kata yang tepat adalah tolok. Tolok berarti banding, imbangan, atau tara. Tiada toloknya berarti tiada taranya, tiada bandingnya. Tolok ukur adalah sesuatu yang dipakai sebagai dasar mengukur, sebagai patokan, atau standar.

Jadi, tulislah tolok ukur, bukan tolak ukur.

Dari dan Daripada

Mari kita perhatikan dua petikan paragraf berikut ini.

Warga Kota Semarang keberatan dengan kebijakan Dinas Perhubungan setempat yang menetapkan kenaikan tarif antara 30 sampai 60 persen. Angka ini jauh lebih besar dari persentase kenaikan harga BBM. (Liputan6.com: Masyarakat Mengeluhkan Kenaikan Tarif Angkutan)

Pelabuhan yang jauh lebih kecil dari Tanjung Priok, Jakarta Utara, itu cukup sibuk, Jumat (8/7) dini hari tersebut. Bahkan, lebih sibuk dari siang harinya. (Media Indonesia: Mengungkap Penyelundupan Mobil Mewah)

Kata dari dan daripada tidak sama pemakaiannya. Kata dari dipakai untuk menunjukkan asal sesuatu, baik bahan maupun arah, sedangkan kata daripada berfungsi membandingkan.

Di dalam petikan pertama terdapat pula kata keberatan yang salah penggunaannya. Keberatan adalah kata benda, bermakna perihal beratnya suatu benda, tugas, perasaan, dan sebagainya. Contoh pemakaiannya dalam kalimat: Terasa benar keberatan naiknya harga BBM itu bagi rakyat.

Kata yang tepat yang seharusnya digunakan dalam kalimat tersebut adalah berkeberatan, sebuah kata kerja yang berarti merasa berat, kurang setuju. Kata keberatan sebagai kata kerja biasanya digunakan dalam ragam percakapan. Dalam entri yang terpisah, akan kita bahas pula tentang kebiasaan menanggalkan awalan ber- yang salah ini.

Perhatikan lagi “kalimat” berikut yang diambil dari petikan kedua.

Bahkan, lebih sibuk dari siang harinya.

“Kalimat” di atas tidak memiliki subjek sebagai syarat lengkapnya sebuah kalimat. Kalimat dalam ragam resmi, baik tertulis maupun percakapan, sekurang-kurangnya harus memiliki subjek dan predikat.

Jadi, kalimat-kalimat tersebut seharusnya ditulis seperti berikut.

Warga Kota Semarang berkeberatan dengan kebijakan Dinas Perhubungan setempat yang menetapkan kenaikan tarif antara 30 sampai 60 persen. Angka ini jauh lebih besar daripada persentase kenaikan harga BBM.

Pelabuhan yang jauh lebih kecil daripada Tanjung Priok, Jakarta Utara, itu cukup sibuk, Jumat (8/7) dini hari tersebut. Bahkan, pelabuhan tersebut lebih sibuk daripada siang harinya.

Kalimat di atas dapat pula ditulis seperti berikut.

Pelabuhan yang jauh lebih kecil daripada Tanjung Priok, Jakarta Utara, itu cukup sibuk, Jumat (8/7) dini hari tersebut, bahkan lebih sibuk daripada siang harinya.