Sebelumnya

Koma, Perusak Kesatuan S-P

Untuk menjelaskan judul di atas, izinkan saya mengutip tulisan Mas Emil yang mengomentari curhat Bunga Sirait di entri “Bahasa Kita Punya Nama”:

“Pertama kali mendengar penyebutan ‘bahasa’ untuk mengacu kepada Bahasa Indonesia, memang terasa menggelikan.”

Kemudian ada contoh berikut yang saya cuplik dari sampul Kamus Lengkap Indonesia-Inggris-nya Alan Stevens:

“Pesatnya perkembangan bahasa Indonesia dan meningkatnya intensitas komunikasi internasional, memunculkan kebutuhan mendesak akan adanya kamus Indonesia-Inggris yang lengkap dan informatif.”

Persamaan kedua kutipan di atas adalah adanya kekeliruan penempatan koma yang merusak kesatuan Subjek-Predikat dan memutus alur penuturan sehingga menghambat kelancaran pemahaman makna oleh pembaca.

Kekeliruan penempatan koma seperti itu sangat umum terjadi dalam tradisi menulis kita. Pemicunya mungkin adalah kurangnya penguasaan fungsi kata dalam kalimat. Seperti kita ketahui dari pelajaran tata bahasa dasar di bangku sekolah, ada beberapa fungsi kata dalam kalimat, yang utama adalah Subjek dan Predikat. Subjek kalimat pertama di atas adalah “Pertama … Indonesia” dan Subjek kalimat kedua adalah “Pesatnya … internasional”, di mana masing-masing Subjek itu kemudian diikuti oleh Predikat “memang terasa menggelikan” dan “memunculkan … informatif”. Dalam penulisannya, Subjek dan Predikat tidak dipisahkan oleh koma (kecuali tentu saja dalam bentuk puisi dan sejenisnya).

Jadi, supaya kedua kutipan di atas enak dibaca dan memenuhi persyaratan sebagai kalimat, komanya sebaiknya dihapus. Lebih baik lagi kalau kita juga giat berlatih mengoreksi setiap kesalahan serupa yang bertebaran di sekitar kita, supaya keterampilan berbahasa tulis kita semakin punya daya saing dalam forum komunikasi formal yang mensyaratkan penggunaan tata bahasa baku. Gitu loh

Berhasil!

Seseorang dikatakan berhasil apabila orang itu—sebagai subjek yang aktif melakukan pekerjaan—mendatangkan hasil dari apa yang dikerjakannya. Saya berhasil membuka sebuah kaleng, artinya saya—bukan orang lain—melakukan pekerjaan membuka sebuah kaleng dan hasilnya adalah, misalnya, tutup kaleng yang terbuka dan cacing yang merayap keluar (karena saya ternyata membuka kaleng milik Rina Buntaran).

Nah, bagaimana dengan kalimat berikut ini?

Tiga kapal penangkap ikan yang menggunakan jaring pukat harimau (trawl) beserta delapan ton ikan beraneka jenis berhasil ditangkap petugas Seksi Dinas Ketentraman, Ketertiban, dan Perlindungan Masyarakat Pemerintah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. (Kompas)

Hingga Rabu (26/1) petang, baru dua gerbong kereta api yang berhasil dipindahkan. Padahal, PT Kereta Api Indonesia sudah mengerahkan kereta derek dan ratusan pekerja dari Lawang dan Malang, Jawa Timur. (Liputan6)

Ja (23), tersangka penjahat yang dikenal mempunyai “ilmu belut” (lincin dan pandai menghilang) berhasil diringkus anggota Polsek Cibaliung. (Pikiran Rakyat)

Jadi, siapakah sebenarnya yang telah berhasil? Kapal penangkap ikan beserta ikan beraneka jenis ataukah petugas Seksi Dinas Ketentraman, Ketertiban, dan Perlindungan Masyarakat Pemerintah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu (duh, panjang benar)? Dua gerbong kereta api ataukah kereta derek dan ratusan pekerja? Penjahat berilmu belut ataukah anggota Polsek Cibaliung?

Tentu saja yang berhasil itu adalah petugas Seksi Dinas Kententraman, Ketertiban, dan Perlindungan Masyarakat Pemerintah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, kereta derek dan ratusan pekerja, serta anggota Polsek Cibaliung, bukan yang lain.

Kita tidak dapat mengatakan bahwa seorang pencuri berhasil ditangkap polisi (kecuali jika si pencuri itu sengaja membuat dirinya sendiri tertangkap). Katakan saja bahwa seorang pencuri telah ditangkap polisi. Polisilah yang berhasil.

Bahasa Kita Punya Nama

Seorang pembaca blog ini, Bunga Sirait, berkirim surat—beliau menyebutnya sebagai curhat—tentang bahasa Indonesia yang sering kali disebut sebagai “bahasa” saja. Barangkali persoalan ini tidak begitu selaras dengan tema pada blog ini secara keseluruhan, tetapi saya tampilkan karena sudah lama muncul dan merisaukan.

Berikut adalah kutipannya.

Saya sering mendengar orang menulis atau berbicara, “Do you speak bahasa?” Ini sering saya dengar dan keluar dari mulut orang asing—dan ironisnya juga dari mulut orang Indonesia sendiri kalau mereka berbicara dengan orang asing. Ini terjadi begitu sering sehingga cukup mengganggu saya, sementara saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya sering bilang, “Ya jelas, dong. Orang kan bicara bahasa, memangnya kita bicara pukulan atau cakaran?”

Namun mereka yang saya tahu menggunakan kalimat seperti itu kerap menjawab “Itu bagaimana mereka (orang asing) memahami bahasa Indonesia. Mereka ngertinya begitu,” ketika saya tanya mengapa mereka masih menggunakan bahasa dalam kalimat-kalimat seperti itu. Kalau orang asing kita mencoba mengerti, sementara kalau kita sendiri yang begitu, kita pasti akan terdengar sangat bodoh, dan mungkin orang-orang yang sama tidak akan mencoba mengerti. Saya terus terang kecewa bercampur frustasi. Orang-orang itu mungkin bisa berpikir mereka pengertian, namun saya melihat mungkin itu bentuk mental bangsa jajahan yang tidak percaya diri. Mengapa untuk menggunakan bahasa sendiri pun kita harus menunduk pada logika orang lain, kalau itu memang alasannya.

Kekecewaan saya bertambah lagi ketika situs media sebesar—kalau tidak sekredibel—Tempo juga melakukan hal yang serupa. Coba buka situs tempointeraktif dan buka versi Bahasa Inggris-nya. Pada boks yang memampang beragam menu berita, ada pilihan “Bahasa” di atas “Japanese” (yang mungkin menurut Tempo bukan bahasa).

Sungguh mengecewakan, tapi lagi-lagi, apa boleh buat saya tidak menemukan kolom contact us-nya, jadi saya curhat di sini saja. Dengan bahasa. (Bunga Sirait)