Bahasa Kita Punya Nama

Seorang pembaca blog ini, Bunga Sirait, berkirim surat—beliau menyebutnya sebagai curhat—tentang bahasa Indonesia yang sering kali disebut sebagai “bahasa” saja. Barangkali persoalan ini tidak begitu selaras dengan tema pada blog ini secara keseluruhan, tetapi saya tampilkan karena sudah lama muncul dan merisaukan.

Berikut adalah kutipannya.

Saya sering mendengar orang menulis atau berbicara, “Do you speak bahasa?” Ini sering saya dengar dan keluar dari mulut orang asing—dan ironisnya juga dari mulut orang Indonesia sendiri kalau mereka berbicara dengan orang asing. Ini terjadi begitu sering sehingga cukup mengganggu saya, sementara saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya sering bilang, “Ya jelas, dong. Orang kan bicara bahasa, memangnya kita bicara pukulan atau cakaran?”

Namun mereka yang saya tahu menggunakan kalimat seperti itu kerap menjawab “Itu bagaimana mereka (orang asing) memahami bahasa Indonesia. Mereka ngertinya begitu,” ketika saya tanya mengapa mereka masih menggunakan bahasa dalam kalimat-kalimat seperti itu. Kalau orang asing kita mencoba mengerti, sementara kalau kita sendiri yang begitu, kita pasti akan terdengar sangat bodoh, dan mungkin orang-orang yang sama tidak akan mencoba mengerti. Saya terus terang kecewa bercampur frustasi. Orang-orang itu mungkin bisa berpikir mereka pengertian, namun saya melihat mungkin itu bentuk mental bangsa jajahan yang tidak percaya diri. Mengapa untuk menggunakan bahasa sendiri pun kita harus menunduk pada logika orang lain, kalau itu memang alasannya.

Kekecewaan saya bertambah lagi ketika situs media sebesar—kalau tidak sekredibel—Tempo juga melakukan hal yang serupa. Coba buka situs tempointeraktif dan buka versi Bahasa Inggris-nya. Pada boks yang memampang beragam menu berita, ada pilihan “Bahasa” di atas “Japanese” (yang mungkin menurut Tempo bukan bahasa).

Sungguh mengecewakan, tapi lagi-lagi, apa boleh buat saya tidak menemukan kolom contact us-nya, jadi saya curhat di sini saja. Dengan bahasa. (Bunga Sirait)

25 komentar »


  1. enda berkomentar,

    perlu “kecewa berat” ga sih sebenarnya?

    anggap aja sebuah salah kaprah dari salah-salah kaprah yg lain.

    nanti bisa masuk ke list semacam: “tahukah Anda bahwa…” :)

  2. Sirait berkomentar,

    baru sadar di tempo pake “bahasa”. btw, banyak juga sirait pembaca blog ini yah. :)

  3. didats berkomentar,

    hehehe
    pertama kali bergaul dengan orang2 asing, aku juga bingung.
    gag tau kenapa mereka bilang “bahasa”.

  4. agusset berkomentar,

    Apa yang dikatakan orang asing, meskipun itu salah kaprah (seperti kata “Bahasa” untuk “Bahasa Indonesia”) memang cukup menggelikan. Sudah tradisi mungkin ya? Atau (jangan-jangan) malah mungkin sudah merupakan karakter bangsa Indonesia secara umum “sedjak djaman dahoeloe”…

  5. agusset berkomentar,

    Mohon maaf, komentarnya ada yang kurang, seharusnya:

    Suka latah mengikuti apa yang dikatakan orang asing, meskipun itu salah kaprah (seperti kata “Bahasa” untuk “Bahasa Indonesia”) memang cukup menggelikan. Sudah tradisi mungkin ya? Atau (jangan-jangan) malah mungkin sudah merupakan karakter bangsa Indonesia secara umum “sedjak djaman dahoeloe”…

  6. aRdho berkomentar,

    iya.. memang penyebutan “bahasa” itu agak salah kaprah.. rasanya gak enak banget..

  7. Sunny Hills berkomentar,

    Jika tidak salah, di Linux (saya lupa distro yang mana), juga memakai pilihan ‘Bahasa’ untuk Bahasa Indonesia.

    Maaf, hanya sekadarnya saja.

  8. Jay berkomentar,

    Daripada menyebut bahasa saja sebagai arti Bahasa Indonesia lebih baik menyebut Indonesian.

  9. aRdho berkomentar,

    Indonesian, kayaknya lebih tepat buat orang Indonesia aja…

    mgkn ada kosa kata lain?

    hmm..

    Indonesis?

  10. Rina Buntaran berkomentar,

    Konon istilah “Bahasa” digunakan orang Malaysia untuk menyebut bahasa mereka.Lalu orang asing salah kaprah menyamakan bahasa kita dengan bahasa Melayu, sedangkan (beberapa) orang Indonesia bersikap bagai kerbau dicocok hidung. Sekadar informasi, para pakar bahasa seperti Anton Moeliono dkk. menyatakan bahwa kita (seharusnya) tetap bangga menggunakan istilah “Bahasa Indonesia” sebagai jati diri bangsa.

  11. kabayan berkomentar,

    Menurut hemat saya bahasa (bukan bahasa Indonesia saja)itu harus hidup, tidak kaku. Jadi, bila kebanyakan penggunanya merasa nyaman dengan dengan sebuah istilah, “aturan” harus secepat mungkin mempertimbangkan untuk membakukannya.

  12. Pujiono berkomentar,

    Menurut saya istilah yang tepat adalah “Indonesian” sama seperti halnya “English” yang merujuk kepada “orang Inggris” dan “bahasa Inggris”.

    Tidak hanya TEMPO yang menggunakan “bahasa” , sampul-sampul DVD dan VCD pun ternyata menggunakan istilah itu untuk menunjukkan bahwa cakram yang mereka produksi menyediakan subtitle berbahasa Indonesia.

  13. Pujiono berkomentar,

    Dari hasil penulusuran di Wikipedia terungkap bahwa kata “bahasa” dalam bahasa Inggris memang digunakan untuk merujuk pada dua bahasa, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu.

    Ada baiknya kita menambahkan informasi mengenai hal ini di Wikipedia supaya kesalahpahaman dan ketikdaktepatan ini bisa diluruskan.

    http://en.wikipedia.org/wiki/Bahasa

  14. Evie W berkomentar,

    Di memang tertulis:
    Bahasa means language in Indonesian, Malay, and related languages. It is sometimes used in English to refer to one of these languages:
    Indonesian (Bahasa Indonesia) - Indonesia
    Malay (Bahasa Melayu) - Malaysia
    Sependapat dengan Mas Pujiono, ada baiknya diusulkan tambahan kata “incorrectly” sehingga kalimat di atas menjadi: “It is sometimes incorrectly used in English to refer to one of these languanges …”

  15. danu berkomentar,

    ini salah kaprah yang sudah bertahun lamanya. barangkali pusat bahasa dapat memberikan panduan yang lebih tepat. barangkali ya…

  16. Emil berkomentar,

    Pertama kali mendengar penyebutan “bahasa” untuk mengacu kepada Bahasa Indonesia, memang terasa menggelikan. Akan tetapi, lama-kelamaan saya dapat menerimanya bahkan ada sedikit perasaan bangga menyembul di hati ini. Mengapa? Karena paling tidak, orang asing itu sudah mengetahui atau belajar mengucapkan satu kosa kata bahasa Indonesia yaitu “bahasa”. Lebih baik tokh, daripada mereka menyebutnya “Indonesian language” yang berarti bahasa kita tidak memiliki nama asli yang dapat diucapkan oleh lidah internasional? Bandingkan dengan bahasa Jepang yang oleh orang asing hanya disebut “Japanese”, bukan “nihongo” seperti dalam bahasa aslinya. Jadi kesimpulannya, marilah kita berbangga sedikit, rekan-rekan. :)

  17. amel berkomentar,

    Tentang Bahasa Indonesia atau Indonesian (language): baru-baru ini saya membaca arsip lama di KOMPAS mengenai hal ini. Di satu artikel dari Anton Moeliono (Sabtu, 30.08.2003) dibahas tentang asal usul kemunculan sebutan “Bahasa” untuk merujuk Bahasa Indonesia. Pertama, karena ada anggapan Bahasa Indonesia adalah bahasa buatan dan sedang berkembang; dan kedua, awalnya merupakan kompromi dari pihak Belanda pada awal-awal kemerdekaan RI di mana di satu sisi enggan mengakui “het indonesisch” namun di sisi lain juga tidak mau menyinggung orang-orang Indonesia dengan menyebut bahasa mereka “het maleis”.

    Dan kesimpulannya:
    “Andaikan kita mengenal latar belakangnya, penamaan the Bahasa (Indonesia) dan the Indonesian language atau het indonesisch dalam konteks kalimat asing tidak akan kita anggap sama saja. Jika ada rasa kebanggaan bahasa, maka kita akan menuntut agar bahasa Indonesia itu diperlakukan sewajarnya seperti bahasa lain dan justru jangan diperlainkan seakan-akan kata bahasa tidak dapat diterjemahkan orang. Hanya jika penutur bahasa Inggris beranggapan bahwa kalimat I know a little French sama rapinya dengan I know a little francais, dalam bahasa bakunya, bolehlah kita anggap I know a little Indonesian dan I know a little Bahasa Indonesia sama saja.”
    (Moeliono, 2003).

  18. amel berkomentar,

    Sementara mengenai Wikipedia: Wikipedia adalah ensiklopedi on line di mana para pengunjung bebas, dibolehkan, bahkan dianjurkan, untuk turut menyumbang ide dan menyunting isi.

    Karena semua orang bebas mengubah isi sewaktu-waktu, maka saya akan sangat berhati-hati sekali jika ingin merujuk Wikipedia.

    Wikipedia bagus untuk pencarian secara umum tentang satu hal yang benar-benar baru dan asing bagi kita, namun merujuk Wikipedia adalah masalah lain lagi.

  19. jeffrey berkomentar,

    menurut pengamatan saya, nama negara setelah kata ‘bahasa’itu menunjukkan asal bahasa tsb, misalnya bahasa Cina artinya semua bahasa yg lahir di negeri
    Cina yg punya banyak sekali bahasa daerah tp bhs nasionalnya punya nama yaitu Mandarin, contoh lain bahasa India artinya bahasa dari India, bahasa utamanya punya nama yaitu Hindi, trus bahasa lainnya ada Tamil, Urdu, Divehi, dll.
    jadi bahasa Indonesia bisa berarti semua bahasa yang lahir di Indonesia termasuk Jawa, Sunda, Batak, Minang, sampai Ambon dan Papua, sayangnya bahasa persatuan kita tdk punya nama khusus, jadi disebutlah bahasa Indonesia.
    when they speak Indonesia, it can refer to Javanese, Sundanese, etc, jd mereka mengucapkan “Bahasa Indonesia” walau mereka sedang berbicara bahasa Inggris, trus disingkat jadi “BAHASA” doank.
    Kalau ‘Malay’ itu pasti artinya bahasa Melayu di Malaysia, tapi saya tdk tahu tuh apakah di Malaysia ada bahasa daerah lainnya, selain itu di beberapa daerah di Sumatra juga banyak digunakan bahasa Melayu… jadi makin bingung de…

  20. Benny berkomentar,

    omong-omong bung jeffrey, itu bahasa Tionghoa. jangan gunakan kata ‘C’ itu lagi

  21. Zack berkomentar,

    Aku rasa bahasa melayu (Malay)kerana Bahasa Indonesia merujuk kepada Indonesia.Melayu wujud lebih dahulu bukan Indonesia atau Malaysia .Bahasa yang dituturkan oleh seluruh nusantara Melayu seperti Malaysia ,Indonesia, Brunei,Singapura,Selatan Thailand dan Selatan Filipina ialah bahasa yang sama iaitu Melayu cuma slangnya saja yang berbeda mengikut daerah penuturnya.English tetap disebut English walaupun slangnya berbeda antara british, amerika,australia atau asia.

  22. Bewe berkomentar,

    Mengapa orang asing menggunakan definisi sendiri, padahal sudah jelas pemilik bahasa itu memakai nama bahasa Indonesia? Apa karena kurang adanya sosialisasi dari yang berwenang? Menurut saya, orang asing yang terbiasa menyebut setiap bahasa dengan satu kata. Jadi, ketika harus menyebut bahasa Indonesia, mereka menyebut kata pertama.

  23. Winih berkomentar,

    Membaca komentar2 sebelumnya, aku pikir penggunaan “Bahasa Indonesia” lebih pas, atau “Indonesian” (language) daripada sekedar “bahasa”. Nggak jelas gitu loh, bahasa apa??

  24. sabai nan aluih berkomentar,

    pak/ bu polisi, saya lg sakit, tlg diobati. Saya lg bingung sebenarnya mnrt EYD
    “Padang TV” atau “TV Padang”
    “goreng pisang” atau “pisang goreng”
    “polisi wanita” atau “wanita polisi”
    “classy radio” atau “radio classy”. tlg dijawab ya pak/ bu polisi. (+rumus2nya jg)& teori siapa, referensinya di mana saja. terimakasih.

  25. sabai nan aluih berkomentar,

    pak/ bu polisi, saya lg sakit, tlg diobati. Saya lg bingung sebenarnya mnrt EYD
    “Padang TV” atau “TV Padang”
    “goreng pisang” atau “pisang goreng”
    “polisi wanita” atau “wanita polisi”
    “classy radio” atau “radio classy”. tlg dijawab ya pak/ bu polisi. (+rumus2nya jg)& teori siapa, referensinya di mana saja. terimakasih.


Komentar Anda:


Alamat e-mail tidak akan ditampilkan, HTML yang diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>