26-01-2006
Koma, Perusak Kesatuan S-P
Untuk menjelaskan judul di atas, izinkan saya mengutip tulisan Mas Emil yang mengomentari curhat Bunga Sirait di entri “Bahasa Kita Punya Nama”:
“Pertama kali mendengar penyebutan ‘bahasa’ untuk mengacu kepada Bahasa Indonesia, memang terasa menggelikan.”
Kemudian ada contoh berikut yang saya cuplik dari sampul Kamus Lengkap Indonesia-Inggris-nya Alan Stevens:
“Pesatnya perkembangan bahasa Indonesia dan meningkatnya intensitas komunikasi internasional, memunculkan kebutuhan mendesak akan adanya kamus Indonesia-Inggris yang lengkap dan informatif.”
Persamaan kedua kutipan di atas adalah adanya kekeliruan penempatan koma yang merusak kesatuan Subjek-Predikat dan memutus alur penuturan sehingga menghambat kelancaran pemahaman makna oleh pembaca.
Kekeliruan penempatan koma seperti itu sangat umum terjadi dalam tradisi menulis kita. Pemicunya mungkin adalah kurangnya penguasaan fungsi kata dalam kalimat. Seperti kita ketahui dari pelajaran tata bahasa dasar di bangku sekolah, ada beberapa fungsi kata dalam kalimat, yang utama adalah Subjek dan Predikat. Subjek kalimat pertama di atas adalah “Pertama … Indonesia” dan Subjek kalimat kedua adalah “Pesatnya … internasional”, di mana masing-masing Subjek itu kemudian diikuti oleh Predikat “memang terasa menggelikan” dan “memunculkan … informatif”. Dalam penulisannya, Subjek dan Predikat tidak dipisahkan oleh koma (kecuali tentu saja dalam bentuk puisi dan sejenisnya).
Jadi, supaya kedua kutipan di atas enak dibaca dan memenuhi persyaratan sebagai kalimat, komanya sebaiknya dihapus. Lebih baik lagi kalau kita juga giat berlatih mengoreksi setiap kesalahan serupa yang bertebaran di sekitar kita, supaya keterampilan berbahasa tulis kita semakin punya daya saing dalam forum komunikasi formal yang mensyaratkan penggunaan tata bahasa baku. Gitu loh …

26-01-2006 @ 7:29
Koma disitu mungkin dimaksudkan supaya ada jeda sedikit menirukan pengucapan kalimat itu secara lisan
Tapi itu salah yah?
26-01-2006 @ 9:48
Tadinya saya sependapat dengan Sirait. Jadi salah ya?
26-01-2006 @ 9:52
Penempatan tanda koma pada tulisan, adalah simbol gaya atau cara membaca yang diinginkan penulis.
26-01-2006 @ 10:18
Kadang-kadang saya juga gajmenuliskan seperti itu; menggunakan koma. Persoalan yang dihadapi adanya kekuatiran kata-kata kerja menjadi tumpang tindih. Apalagi jika kalimatnya panjang. Namun, menurut saya, penting juga sesuai kaidah seperti ini sehingga mendorong kita untuk selalu memperhatikan tulisan dan bagaimana menulis.
26-01-2006 @ 11:17
Kalau kita ingin menggunakan koma dalam kedua kalimat di atas, penempatannya dianjurkan seperti berikut:
“Pertama kali mendengar penyebutan ‘bahasa’, untuk mengacu kepada Bahasa Indonesia, memang terasa menggelikan.”
“Pesatnya perkembangan bahasa Indonesia, dan meningkatnya intensitas komunikasi internasional, memunculkan kebutuhan mendesak akan adanya kamus Indonesia-Inggris yang lengkap dan informatif.”
Mas Sams, kalau kita ingin mendunia, saya rasa kita perlu menguasai penempatan koma yang benar secara tata bahasa. Silakan mengacu ke http://web.uvic.ca/wguide/Pages/GramPunc.html (contoh nomor 25 dan keterangan di bawahnya). Mohon maaf, saya belum berhasil menemukan acuan serupa dalam situs Indonesia.
26-01-2006 @ 12:16
(Be)gitu loh atau (be)gitu lo?
Lo. Gitu lo…
:D
26-01-2006 @ 13:26
Ini memang pengauh dari kebiasaan tutur yang “diterjemahkan” ke dalam tulisan. Secara sederhana saya menyimpulkan bahwa antara subyek dan predikat tidak diperlukan sebuah tanda koma. Bukan begitu, mba Rina?
Koma diperlukan jika kita memberikan penjelasan terhadap subyek. Koma ini pun harus ditutup kembali dengan koma jika penjelasannya sudah selesai dilanjutkan dengan predikat. Bener, nggak?
26-01-2006 @ 14:48
Karena tulisan Rina Buntaran di atas untuk situs Web yang membicarakan aturan dalam bahasa Indonesia, saya tergelitik beberapa hal berikut:
1. pemakaian nya di saya cuplik dari sampul Kamus Lengkap Indonesia-Inggris-nya Alan Stevens. Bukankah ini pengaruh bahasa daerah? Seharusnya cukup Kamus Lengkap Indonesia-Inggris Alan Stevens, tanpa -nya.
2. Beberapa kali subjek dan predikat ditulis menggunakan huruf besar di tengah kalimat. Untuk keperluan apa? Keduanya bukan nama orang, merk benda, atau tempat. Jikalau ingin diberi penekanan, gunakan tag em (emphasized) yang antara lain menghasilkan efek huruf miring secara visual.
3. Curhat itu apa? Tidak ada penjelasan dan sependek yang saya tahu bukan kata baku dalam bahasa Indonesia.
4. Pada kalimat Pemicunya mungkin adalah kurangnya penguasaan fungsi kata dalam kalimat., pemakaian adalah tidak diperlukan. Menurut buku Tata Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka, pemakaian adalah untuk dalam bentuk semacam itu merupakan pengaruh dari bahasa Belanda yang mensyaratkan bagian kedua diisi oleh predikat.
5. Bagaimana dengan penggunaan elipsis (…)? Seingat saya disambung (tanpa spasi) dengan bagian sebelumnya, seperti halnya titik, koma, atau tanda tanya.
26-01-2006 @ 14:53
Koreksi komentar saya di #8:
1. beberapa bagian yang berisi kutipan tulisan Rina ternyata dibuang oleh sistem komentar WordPress. Tag cite tidak diperkenankan, sehingga kutipan tersebut “bercampur” menjadi satu dengan bagian kalimat lainnya.
2. di nomor 4, tertulis “pemakaian adalah untuk dalam…”, seharusnya “pemakaian adalah dalam…”
Terima kasih.
26-01-2006 @ 15:21
Pak Amal, terima kasih untuk masukannya. No 1 saya baru tahu, no 2 untuk membedakan dengan subjek dan predikat yang nonlinguistik, no 3 karena kata curhat muncul di entri yang saya acu, no 4 saya sependapat, no 5 saya mengacu ke buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia terbitan tahun 1988 halaman 415 butir G2.
27-01-2006 @ 5:07
Komentari pemakaian bahasa di blog saya, dong!
27-01-2006 @ 7:11
Terima kasih untuk penjelasan mengenai pemakaian tanda koma yang benar, Mbak Rina. Saya sungguh tidak sadar bahwa kata-kata sebelum tanda koma itu adalah subjek.
Tadinya saya ingin menaruh kata saya di antara “Pertama kali” dan “mendengar”. Kalau demikian, apakah masih tidak boleh menggunakan koma di situ?
27-01-2006 @ 8:34
Lebih baik ditulis begini (menggunakan double-dash pada mesin ketik manual atau mdash pada tulisan digital):
“Pesatnya perkembangan bahasa Indonesia –dan meningkatnya intensitas komunikasi internasional– memunculkan kebutuhan mendesak akan adanya kamus Indonesia-Inggris yang lengkap dan informatif.”
Jika memang dikhawatirkan pembaca akan kehilangan subyek karena deskripsi subyek terlalu panjang.
27-01-2006 @ 16:26
Mas S. Yohh, sudah saya lihat blog Anda. Mohon maaf, komentarnya di sini saja ya, Mas, karena ruang komentar di blog Anda tidak cukup. Berdasarkan pengamatan saya, Anda perlu lebih mendalami penempatan tanda baca, khususnya koma, yang tepat. Dalam “Orkes Sakit Hati” ada sedikitnya 3 kalimat yang menurut saya memuat koma yang tidak pada tempatnya. Berikut alternatif yang lebih tepat menurut saya.
1. Semoga saja, tadi malam, kandidat wali kota yang berpeluang besar memenangkan pilkada Sabtu kemarin nonton acara ultah TPI.
2. Semoga pula calon Pak wali kota itu, tentu saja bersama wakilnya yang akan menjadi Pak wakil wali kota, kemudian menulis di agenda mereka janji-janji yang telah mereka tebarkan di kampanye wali kota lalu.
3. Usul saya, Pak calon Wali dan Pak Wakilnya, untuk menghilangkan booring saat menyusun janji-janji itu, yang saya yakin tak cukup ditulis di selembar folio bergaris, iringi dengan petikan gitar.
27-01-2006 @ 21:33
Terimakasih. Masukan yang sangat berarti. Kadang, pemberian tanda “koma”, saya sandarkan pada tarikan nafas saya. Apakah tekhnik yang seperti ini bisa dipergunakan?
01-02-2006 @ 17:39
Maaf ya, saya turut mengomentari tulisan mas Yohh. Ketiga kalimat yang dipaparkan mbak Rina telah menggelitik saya untuk bertanya. Berkenaan dengan teks yang pertama (nomor satu), mengapa pada teks kalimat itu tertulis kata nonton bukan menonton? Tidakkah sebaiknya kata itu mendapatkan imbuhan me-? Selanjutnya, pada teks nomor 2 dan 3, apakah kalimat-kalimat itu sudah efektif? Menurut saya, ini bukan lagi permasalahan mengenai penggunaan tanda koma, tetapi keefektifan kalimat. Terima kasih
07-03-2006 @ 10:31
Lebih baik lagi kalau kita juga giat berlatih mengoreksi setiap kesalahan serupa yang bertebaran di sekitar kita, supaya keterampilan berbahasa tulis kita semakin punya daya saing dalam forum komunikasi formal yang mensyaratkan penggunaan tata bahasa baku.
Tanda koma sebelum kata ’supaya’ pada kalimat di atas juga tidak tepat karena anak kalimat tidak mendahului induk kalimat (anak yang sopan, hehehe).
26-05-2006 @ 12:43
Saya semula sependapat dengan Sirait, Budi, dan Sams. Selain itu, saya mematuhi penggunaan tanda koma sesuai KBBI, Edisi Kedua, halaman 1160–1161.
25-09-2006 @ 14:38
Bagaimana penulisan untuk contoh kalimat berikut ini. Manakah yang benar?
1. Di sana dijual bermacam buah seperti mangga, pisang, dan apel.
atau
2. Di sana dijual bermacam buah seperti mangga, pisang dan apel.
26-09-2006 @ 7:32
#19: Kalimat yang benar adalah yang pertama.
04-12-2006 @ 17:24
mana yang benar silahkan atau silakan?
08-01-2007 @ 11:55
yang benar: “silakan”
05-02-2007 @ 18:52
jadi terbayang betapa banyaknya kesalahan kalimat yang saya lakukan selama ini. ihik!!
12-03-2007 @ 17:53
kepada siapa saja. terutama pengelola website polisi eyd.
saya mau tanya, apakah alamat website ini masih aktif.karena ada pemberitahuan bahwa pindah alamat di http weblogs.or.id/polisieyd/ternyata saya cari tidak bisa ditemukan.jika memang ganti alamat,tolong saya diberitahu karena saya sangat tertarik dengan bahasan yang ada disitus ini.terima kasih
07-04-2007 @ 9:59
mengapa penulisan Maha Esa dipisah sedangkan Mahakuasa diserangkaikan padahal kata Maha sama-sama mendapatkan gabungan kata berbentuk kata dasar
07-04-2007 @ 10:02
mohon penjelasan mengapa penulisan kata Maha Esa dipisah sedangkan Mahakuasa diserangkaian,padahal kata Maha di atas sama-sama mendapatkan gabungan kata dasar
17-04-2007 @ 22:52
Mengenai penulisan kata Maha Esa yang dipisah sedangkan Mahakuasa diserangkaikan menurut cerita guru saya di SMU dulu dikarenakan kata Mahaesa lebih merujuk kepada Dewa Mahesa. Yaitu dewa yang berbentuk sapi, sehingga sangat mustahil Maha Esa yang dimaksud pada kata tersebut adalah Dewa Mahesa.
20-06-2007 @ 16:11
Seru juga ya berkomentar di sini. Jangan-jangan nanti saya dikritik juga kalau memberi komentar dengan bahasa tidak baku. Mengenai penulisan tanda koma seperti yang diungkapkan Mbak Rina memang seringkali terjadi. Menurut saya, hal itu disebabkan oleh intonasi kita ketika mengucapkan kalimat itu. Kadang-kadang saya juga bingung ketika harus mengedit tulisan yang banyak menggunakan tanda koma. Kadang-kadang subyek yang berupa kata majemuk akan disisipkan tanda koma apabila digabung dengan predikat. Penggunaan “jika…maka…” juga seringkali rancu. Seingat saya, penggunaan “jika…maka…” tidak memerlukan tanda koma sebelum kata “maka”. Namun apabila dibalik, konsekuen ada di depan dan antiseden ada di belakang maka diberi tanda koma sebelum kata “jika”. Mungkin saya salah ingat atau mungkin saya belum membaca artikel lainnya. Saya kira komentar saya cukup sekian. Mudah-mudahan lain kali bisa berkunjung lagi dan sudah banyak komentar untuk tulisan saya. Terimakasih.
20-06-2007 @ 16:26
Seru juga membaca komentar dari teman-teman di blog ini. Jangan-jangan saya juga dikritik kalau bahasa yang saya gunakan tidak baku.
Mengomentari tulisan Mbak Rina, saya setuju bahwa banyak sekali kesalahan penggunaan randa koma di tulisan-tulisan baik tulisan ilmiah maupun tulisan non ilmiah. Hal itu kemungkinan terjadi karena pengaruh intonasi. Kadang-kadang subyek yang berbentuk kata majemuk akan ditambahkan tanda koma sebelum predikat. Penggunaan ‘adalah’ juga sering diganti dengan tanda koma, misalnya pada kalimat berikut:
” Banyak hal yang harus diperhatikan dalam penulisan artikel. Pertama,… . Kedua, … .”
Apakah penulisan tanda koma tersebut benar?
Tanda koma pada penggunaan “jika…maka…” juga seringkali keliru. Seringkali kita temui tanda koma sebelum kata ‘maka’. Seingat saya tanda koma tidak diperlukan di sana kecuali apabila konsekuen berada di depan dan antiseden berada di belakang maka diperlukan tanda koma sebelum kata ‘jika’. Apakah ingatan saya betul? Semoga saya bisa mendapat penjelasan dari teman-teman yang berkunjung ke sini. Terimakasih.
07-04-2008 @ 12:50
Saya ingin menanyakan apakah benar becermin, bukan bercermin dan tecermin, bukan tercermin ?Bisakah anda menyebutkan buku acuan eyd yang memuat tentang pembentukan kata dengan awalan seperti contoh di atas beserta perkecualiannya kalau ada.Terima kasih.
16-04-2008 @ 13:45
Ternyata asyik juga belajar mengenal bahasa sendiri. Tiba-tiba mata kita diajak untuk bekerja dengan gaya gerak lambat. Lihat ke sana, lihat ke sini. Senyum mengembang dan kata “aha…!” segera terlintas di otak ketika kita berhasil menemukan dosa kalimat, istilah bagi para komentator, atau ketidaktahuan/ketidaksengajaan/ketidaktelitian kecil, istilah bagi para penulis, berupa kesalahan tanda baca, penulisan kata, dan lain-lain. Senyum kemenangan para calon komentator segera berubah menjadi senyum kecut tatkala mereka menyadari pernah membuat dosa kalimat yang sama. Para penulis seketika merasakan perut mual, keringat dingin, kepala pusing, dan keinginan kapok menulis (”gak…gak…!” kata si bocah yang mengira coklat ternyata broklat) ketika kesalahannya dikomentari sejumlah orang. Saya mengucapkan selamat dan terima kasih kepada Pak Polisi EYD atas kejeliannya menciptakan blog yang mencerdaskan ini. Anda layak mendapat bintang.
Dan inilah beberapa “aha…!” saya :
~ Komentar #1 dari Bung Sirait “…tapi itu salah yah?” langsung dikoreksi oleh Bung Budi “…salah ya?”. Jangan tersenyum dulu, Bung Budi! Bung Amal mungkin akan mengomentari kalimat ” Tadinya saya sependapat …” anda terpengaruh bahasa daerah.
~ Komentar #7 dari Bung Pujiono “…Bener, nggak?”. Terserah kepada anda para pembaca karena saya juga bingung “…Benar, tidak?”
~ Beberapa kawan kita mengakhiri kalimatnya dengan kata “terima kasih”. Ada yang aneh? Silakan senyum-senyum sendiri.
~ Kalau belum puas tersenyumnya, silakan lihat komentar #25 dari Keke dan bayangkan rasa paniknya dari komentar #26 sebagai ralat.
~ Terakhir, hadiah dari gerak lambat mata saya adalah komentar #29 dari yustha “…kesalahan penggunaan randa koma…” membuat saya terpingkal-pingkal, bahkan sampai pada saat mengetik tulisan ini. Otak nakal saya bertanya, “Siapa yang tega menyalahgunakan randa koma?” (randa = janda, bhs. jawa)
Maaf, Bung Yustha! Becanda! atau…Bercanda?
Salam damai dan SAVE OUR NATURE!
17-04-2008 @ 15:02
Saya mengomentari no. 19 andre berkomentar dan no.20 polisi eyd berkomentar. Sepanjang saya bersekolah yang baku adalah yang no. 1 pada komentar no. 19, tetapi buku paket SD kelas 1 tidak konsisten. Yang benar yang mana ya ? Bu Rina ,tolong dijawab ya.
17-04-2008 @ 15:12
Sorry, ralat untuk conny berkomentar. Yang saya maksud sepanjang saya bersekolah yang baku adalah yang no 2 (tanpa koma sebelum dan).
23-04-2008 @ 16:33
Conny, komentar 20 sudah sesuai dengan contoh di Pedoman Umum EBIYD Cet ke-28 (Balai Pustaka, 2005)hal 55.