12-01-2006
Catatan untuk Pengguna KBBI
Tulisan Polisi EYD tentang “sekedar” membuat saya ingin berbagi cerita berikut.
Saya beberapa kali dibuat jengah ketika koreksi saya atas ejaan yang digunakan seorang rekan junior ternyata keliru karena saya masih mengacu kepada KBBI edisi jadul (sampul hijau, biru, cokelat) sedangkan dia sudah menggunakan yang mutakhir (sampul merah). Berikut beberapa contoh lema dalam KBBI yang mengalami perubahan cara penulisan: versi lama “frase, intisari, paro, dua per lima (semua angka pecahan), segi tiga” jadi versi baru “frasa, inti sari, paruh, dua perlima, segitiga”. Sepertinya sepele ya, tapi bisa runyam kalau kita bergelut di bidang editing!
Dari komunikasi dengan sesama editor, penerjemah, dan penulis, saya melihat adanya kebutuhan mensosialisasikan dua hal berkaitan dengan penggunaan KBBI, yaitu (1) Mengaculah kepada KBBI edisi terbaru, saat ini Edisi III Cetakan II, sampul merah, harga Rp225.000, (2) Pilihlah lema yang diacu oleh tanda anak panah: bila tertulis “lembab —> lembap”, maka gunakan “lembap” karena itu merupakan varian kata lema yang ejaannya dianggap baku (iklan produk perawatan kecantikan di media massa secara konsisten menggunakan bentuk pertama).
Satu catatan penutup. Beberapa saat lalu saya secara tidak sengaja menemukan satu perubahan berikut: Di KBBI sampul cokelat (1995), “per” dalam angka pecahan ditulis “dua per lima”, sedangkan di KBBI sampul merah (2002) yang tertulis adalah “dua perlima”. Yang menarik, di buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia terbitan tahun 1988 tertulis “tiga perlima”. Mengapa bisa begitu? Dari “perlima” (‘88) menjadi “per lima” (‘95) kemudian kembali menjadi “perlima” (‘02)? Hanya tim penyusun KBBI yang bisa menjelaskan.
