10-02-2006
Aku cinta (ke)padamu …
Menjelang Hari Kasih Sayang, saya iseng mempertanyakan yang mana merupakan bentuk baku ungkapan cinta: “Aku cinta kepadamu” atau “Aku cinta padamu”?
Pengacuan ke KBBI menghasilkan penemuan berikut:
- kepada –> kata depan untuk menandai tujuan orang, contoh: buku ini saya berikan kepadamu
- pada –> i) kata depan yang dipakai untuk menunjukkan posisi di atas atau di dalam hubungan dengan, searti dengan “di” (dipakai di depan kata benda, kata ganti orang, keterangan waktu) atau “ke”, contoh: pada dasarnya, ada padanya (ku, mu), pada keesokan harinya; ii) menurut, contoh: pada sangkanya
Dan pencarian Google menghasilkan contoh-contoh berikut:
a. pengembalian UU Otsus Papua kepada pemerintah (www.kompas.com)
b. setia kepada bangsa dan masyarakat (www.ugm.ac.id )
c. komitmen kepada proses reformasi (id.wikipedia.org)
d. mengacu kepada dokumen ‘Computing Curricula 2005′ (detikinet.com)
e. menyerah kepada nasib dan takdir (www.republika.co.id)
f. sistem pengembalian yang layak dan konsisten pada pemegang saham (www.astaga.com)
g. yang berminat bisa datang tepat pada waktunya (www.pikiran-rakyat.com)
h. pengelolaan dana pendidikan berdasarkan pada prinsip keadilan (www.depdiknas.go.id)
i. pengembalian pada bank syariah tidak mengacu pada tingkat suku bunga (www.suaramerdeka.com)
j. dengan wewenang yang ada padanya (www.kompas.com)
Jika merujuk ke definisi # 1, tampaknya hanya contoh # a yang memenuhi persyaratan penggunaan kata depan “kepada”, sedangkan definisi # 2 membuat saya menyimpulkan bahwa contoh # f merupakan penggunaan kata depan “pada” yang tidak baku. Bagaimana menurut Anda?
Selamat Hari Kasih Sayang. Aku cinta kepadamu … (?)

10-02-2006 @ 18:57
Nah, kebetulan saya paling lemah dalam hal kata depan. Tapi saya tidak melihat ada yang salah pada contoh #g sampai #j (kecuali mungkin contoh #h tidak membutuhkan kata “pada”).
Dan, aku tidak cinta kepadamu maupun padamu, Mba; aku cinta kamu.
10-02-2006 @ 19:03
Eh, maaf kurang teliti. Pada contoh #i ternyata ada dua kata “pada”. Menurut saya penggunaan yang pertama tidak tepat, namun penggunaan yang kedua sepertinya tidak bermasalah.
10-02-2006 @ 19:15
Aku cinta kamu, I love you. Bukan I love to you kan???
10-02-2006 @ 22:24
Saya setuju dengan pendapat Mas Sentausa. Pada contoh #i, penggunaan “pada” yang pertama seharusnya “kepada”.
Mas Aswin, kelihatannya I love to you juga dipakai. coba cari di google. saya juga menemukan artikel yang menarik.
http://omega.cohums.ohio-state.edu/latin/grammar/case.htm
13-02-2006 @ 8:18
dalam bahasa apapun yang namanya preposisi memang paling sulit. dibutuhkan “rasa bahasa” untuk mendapatkan pemahaman yang tinggi tentang makna dan penerapan preposisi ini. mari kita belajar bersama…
14-02-2006 @ 13:19
Bung Sandy, menurut saya kata “pada” yang pertama dalam contoh #i memang tidak perlu ada, tetapi juga bukan diganti dengan “kepada”. Mungkin yang lebih tepat adalah oleh.
Saya yakin bahwa yang dimaksud dengan “pengembalian” dalam kalimat itu adalah return atau kerap disebut rate of return (dalam bahasa Inggris) yang berarti hasil atau pendapatan yang diperoleh oleh bank syariah setelah menginvestasikan dana nasabah. Sebetulnya kalimat ini akan lebih jelas kalau Mbak Rina mengutip bagian kalimat tersebut satu kata lebih awal: “tingkat pengembalian pada bank syariah …”.
14-02-2006 @ 16:54
PolisiEYD
Manakah yang tepat, dipungkiri atau dimungkiri? Saya berpendapat yang pertama.
Paguyuban Pasundan: Pindahkan Ibukota Indonesia
14-02-2006 @ 17:04
“Mungkir” adalah kata yang baku, bukan “pungkir”, sehingga kata turunan yang tepat adalah “dimungkiri”.
Lihat tulisan sebelumnya.
15-02-2006 @ 9:00
Terima kasih tak terhingga, PolisiEYD.
18-02-2006 @ 9:55
Terima kasih, Bung Emil. Akan tetapi, rasanya agak janggal apabila mengganti kata “pada” dengan kata “oleh”: (tingkat) pengembalian pada bank syariah tidak mengacu oleh tingkat suku bunga.
Janggal karena “oleh” biasanya mengikuti bentuk pasif atau kata kerja berawalan ter-, tidak pernah ada di belakang kata kerja berawalan me-.
18-02-2006 @ 13:17
Menurut saya kata “pada” dalam kalimat “aku cinta padamu” merupakan singkatan dari kata “kepada”. Teknik penyingkatan tersebut jamak digunakan pada kalimat lisan. Benar nggak ya?
08-03-2006 @ 23:07
Mas Pujiono, “apa pun” dipisah lho…
15-03-2006 @ 0:57
Lha, kan bakal lebih hemat kalau bilang “aku mencintaimu”. Tanpa kepada, tanpa pada. Beres.
23-03-2006 @ 15:59
emang penting ya ngomongin kayak gitu??!!ga peduli aku cinta kamulah,aku cinta kepadamu, I love you, Ilove to you, yang penting kan maknanya…hehe=P
22-05-2006 @ 10:56
Bung Sandy, maksud saya kata “pada” yang pertama yang diganti dengan “oleh”. Bukan kata “pada” yang kedua. Jadi kalimatnya akan berbunyi: … tingkat pengembalian oleh bank syariah tidak mengacu pada tingkat suku bunga. Maaf, sudah sekian lama baru saya berkunjung ke situs ini lagi karena blog Polisi EYD telah pindah ke situs yg baru.
17-06-2006 @ 15:57
ialah dan adalah ad dibahas nggak ya di Polisi EYD? nyari ah… sory telat, baru datang.
17-06-2006 @ 16:11
kalu aku cinta kepadamu malah jadi lucu lah, emang kalau merayu ap harus pake bahasa yang baku? nggak lucu donk, cari teringat satu cerita nih, ya gar-gara bahasa Indonesia jadi malu seumur hidup. Ceritanya ini, seorang cowok di Tarutung, naksir sama cewek yang sehari-hari pake bahasa Indonesia. saking bakunya cuma mau ngasih ubi aja wah, lihat lah isi karung ini, abang berikan kepadamu adik ikhlas dari abang… sampai disini aja huahuahuhuah udah ngakak semua, sampai sekarang jadi ejekan buatnya jadi penempatan kepadamu untuk aku cinta (ke)padamu tidak cocok buat merayu TITIK
19-06-2006 @ 17:14
terus Lema Pilihan disudut kiri atas itu apa artinya? baru dengar nih
19-10-2006 @ 15:05
saya, benar-benar suka dengan ketelitian ini. ini akan semakin mencerdaskan bangsa kita.INDONESIA
22-10-2006 @ 16:58
untuk mudahnya, kata depan “pada” dipakai untuk mengikuti benda yang bukan orang/manusia, misalnya: Kepala Polri memberi perhatian pada tingginya tingkat kriminal di Ibu Kota; kata depan kepada sebaliknya, misalnya, Kepala Polri memberi ucapan selamat kepada anggotanya yang berhasil menjalankan tugas dengan baik.
terima kasih
27-02-2007 @ 13:56
Saya pikir yang betul adalah “Aku cinta kamu”. Kalau mau pakai kata “kepada” maka mungkin yang benar adalah “Aku jatuh cinta kepadamu”.
27-02-2007 @ 14:00
Saya pikir yang betul adalah “Saya cinta kamu”. Kalau mau pakai kata “kepada” jadinya “Saya jatuh cinta kepadamu”. Kayaknya gitu deh…
25-06-2007 @ 23:55
Dalam hal, “Aku cinta kamu”, “Aku cinta padamu”, dan “Aku cinta kepadamu” sah-sah saja bila kita berpandangan deskriptif. Ketiganya hidup dalam ragam lisan dan tak baku bahasa Indonesia. Dalam ragam baku, seyogyanya tertulis “Aku mencintai kamu (mu)”. Namun, di antara ketiga contoh pertama, manakah yang paling tepat. Saya memilih “Aku cinta kamu”.
Kalimat “Aku cinta kamu” dalam ragam lisan yang longgar memang lazim dijumpai. Tak ada yang salah dalam kalimat tersebut, sebagaimana “Dia rindu kamu”, “Emil benci saya”, “Romi sayang Yuli”,dll. Tapi, dalam ragam tulis, konstruksi-konstruksi tersebut tidak gramatikal, sejatinya, “Aku mencintai kamu”, dan seterusnya. Itu disebabkan predikat “cinta” berkategori nomina, jadi, tidak mungkin diikuti obyek “kamu”. Memang, salah satu ciri ragam lisan dan takbaku adalah kesingkatannya. Di sini, jelas sekali predikat “cinta” merupakan kependekan dari verba “mencinta” dalam konstruksi baku atau ragam tulis.
Kalimat “Aku cinta kepadamu” agak kontradiksi dalam hal ragam. Predikat “cinta” sangat sangat santai, sebaliknya keterangan “kepadamu” sangat baku. Tambahan pula, preposisi “kepada”, biasanya, digunakan dalam konstruksi yang berkomponen makna perpindahan, misalnya, dalam “mengirim surat kepada, “mengembalikan uang kepada”, menyerahkan berkas kepada”, “memberikan tongkat kepada, dan lain-lain.
Konstruksi yang berpredikat ber-d-kan sebaiknya langsung diikuti pelengkap atau nomina, tanpa “kepada”, umpamanya, berdasarkan UU”, “berlandaskan hukum”, “berasakan Pancasila”, dll. Sebabnya, verba berafiks ber-kan langsung diikuti pelengkap, bukan keterangan. Dari sisi ekonomi kata, juga konstruksi itu sangat sejalan. Belum lagi ada asumsi, bahwa -kan dalam verba ber-d-kan merupakan transformasi dari preposisi (kata depan) juga, yakni pada atau atas.
Kalimat “Aku cinta padamu” dalam ragam lisan atau takbaku tidak menyalahi gramatika. Namun, kalau kita menganggap predikat “cinta” kependekan dari verba”mencintai” jelas tak perlu ada kata “pada”.
Salam takzim,
21-08-2007 @ 19:32
hebat, hari gini masih ada polisi EYD
05-10-2007 @ 10:09
Polisi EYD tetap diperlukan agar kita peduli kepada bahasa Indonesia, bukankah bahasa merupakan salah satu ciri eksistensi bangsa?
23-11-2007 @ 10:18
as….maaf.boleh gabung gak?mohon bombingannya .buat senior2 yang pemahamannya tlah jauh lebih mantap cakra berharap dapat binbingannya.
04-01-2008 @ 15:08
Lanjutkan usaha yang baik ini….
08-01-2008 @ 21:47
pak polisi mana yang baku pejudi atau penjudi, pejambret atau penjambret
04-02-2008 @ 17:16
untuk kata-kata aku cinta kamu kayaknya tidak pantas untuk pengukapan pada bangsa karna ungkapan itu sering diucapkan para kalangan anak muda untuk mencari cinta.
tapi buat isi, menurut saya sudah bagus.
maju terus pantang mundur!
teruskan perjuanganmu.