SelanjutnyaSebelumnya

Hindari Pemborosan Kata

Salah satu ciri penggunaan bahasa yang efektif adalah pemakaian kalimat yang hemat tetapi padat isi. Namun, kita masih dapat melihat banyaknya penggunaan kata yang boros. Kata-kata boros ini menjadi berlebihan dan mubazir karena jika dihilangkan pun tidak akan mengubah informasi yang ingin disampaikan.

Dia malah berani memperkirakan sejak dari 2001, 2002, 2003, 2004, 2005, sebenarnya rata-rata hampir 30 persen dari anggaran daerah di Riau setiap tahunnya terindikasi dikorup. (Riau Pos)

Abbas mendapat tekanan domestik dan internasional untuk menetapkan tanggal pemilihan agar supaya meningkatkan pembaruan demokratis yang dianggap sebagai sangat penting bagi masa depan perdamaian dengan Israel. (Media Indonesia)

Menurut Google, produk ini dalam rangka untuk mengenang pendaratan manusia yang pertama kali di bulan, yang terjadi pada 20 Juli 1969. (Catatan Singkat)

Kata “sejak dari” pada kalimat pertama dapat dihemat dengan hanya menulis “sejak” atau “dari”. Demikian pula dengan kata “agar supaya”, kata ini dapat dihemat dengan hanya menulis kata “agar” atau “supaya”. Sedangkan “dalam rangka untuk” dapat ditulis “untuk” saja.

Kalimat-kalimat berikut juga mengandung kata-kata yang boros.

Pemerintah Filipina mengisyaratkan niatnya menarik 51 pasukannya yang berada di Irak, demi untuk menyelamatkan nyawa seorang warganya yang diculik kelompok garis keras Irak. (Kompas)

Lingkungan yang terbentuk adalah merupakan kesadaran (atau ketidaksadaran) apresiatif pelaku yang terlibat didalamnya, perpaduan sikap antara usaha penuaian peran dan adaptasi terhadap benturan. (dhika@batikkejora)

Inti atom yang ditembakinya itu membentuk berbagai unsur-unsur baru. Fermi kaget bercampur senang. (Kompas)

Kapolri mengatakan, pihaknya telah mengirimkan ke DPR, daftar nama-nama orang yang memberikan sumbangan ke institusi Polri. (Pikiran Rakyat)

… mencemari tanah, air, udara dan lapisan ozon, menyebabkan pemanasan global, kerusakan lingkungan dan mengganggu kesehatan, seperti infeksi saluran pernafasan, iritasi mata, dan lain-lain. (www.triaji.net/blog)

Fenomena tersebut dapat mendeskripsikan tentang realitas sosial dan pendidikan agama (Islam) di Indonesia secara umum. (Kompas)

Upaya memanipulasi tujuan daripada pemilu harus dihindari. Lebih baik mengembangkan politik akal sehat dan apa adanya, tidak menipu rakyat. (Suara Karya)

Apabila seseorang mengalami kelainan ini, maka pada lengkung gigi dan rongga mulutnya terdapat ruangan kosong sehingga tampak celah antara gigi (diastema). (Suara Merdeka)

Karena kebebasan yang diberikan sehingga produk unitlink ini tidak memberikan jaminan atau tingkat pengembalian yang dijamin oleh perusahaan asuransi. (Sinar Harapan)

Bupati Cilacap Probo Yulastoro bersama asisten pemkab setempat, seluruh kepala bagian (kabag), kepala dinas (kadinas), para camat, kepala desa dan kepala kelurahan menyatakan persetujuan pencopotan Ir. Adi Suroso dari jabatan Sekretaris Daerah (Sekda) Pemkab Cilacap. (Pikiran Rakyat)

Dapatkah Anda menunjukkan bagian mana dari kalimat-kalimat tersebut yang dapat dihemat? :)

Bahasa Kita Punya Nama

Seorang pembaca blog ini, Bunga Sirait, berkirim surat—beliau menyebutnya sebagai curhat—tentang bahasa Indonesia yang sering kali disebut sebagai “bahasa” saja. Barangkali persoalan ini tidak begitu selaras dengan tema pada blog ini secara keseluruhan, tetapi saya tampilkan karena sudah lama muncul dan merisaukan.

Berikut adalah kutipannya.

Saya sering mendengar orang menulis atau berbicara, “Do you speak bahasa?” Ini sering saya dengar dan keluar dari mulut orang asing—dan ironisnya juga dari mulut orang Indonesia sendiri kalau mereka berbicara dengan orang asing. Ini terjadi begitu sering sehingga cukup mengganggu saya, sementara saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya sering bilang, “Ya jelas, dong. Orang kan bicara bahasa, memangnya kita bicara pukulan atau cakaran?”

Namun mereka yang saya tahu menggunakan kalimat seperti itu kerap menjawab “Itu bagaimana mereka (orang asing) memahami bahasa Indonesia. Mereka ngertinya begitu,” ketika saya tanya mengapa mereka masih menggunakan bahasa dalam kalimat-kalimat seperti itu. Kalau orang asing kita mencoba mengerti, sementara kalau kita sendiri yang begitu, kita pasti akan terdengar sangat bodoh, dan mungkin orang-orang yang sama tidak akan mencoba mengerti. Saya terus terang kecewa bercampur frustasi. Orang-orang itu mungkin bisa berpikir mereka pengertian, namun saya melihat mungkin itu bentuk mental bangsa jajahan yang tidak percaya diri. Mengapa untuk menggunakan bahasa sendiri pun kita harus menunduk pada logika orang lain, kalau itu memang alasannya.

Kekecewaan saya bertambah lagi ketika situs media sebesar—kalau tidak sekredibel—Tempo juga melakukan hal yang serupa. Coba buka situs tempointeraktif dan buka versi Bahasa Inggris-nya. Pada boks yang memampang beragam menu berita, ada pilihan “Bahasa” di atas “Japanese” (yang mungkin menurut Tempo bukan bahasa).

Sungguh mengecewakan, tapi lagi-lagi, apa boleh buat saya tidak menemukan kolom contact us-nya, jadi saya curhat di sini saja. Dengan bahasa. (Bunga Sirait)

Masalah Penanggalan

Penanggalan adalah hal yang akrab bersinggungan dengan kegiatan kita sehari-hari. Namun, ternyata permasalahannya masih mengemuka di antara para pengguna.

Ada yang menulis November, ada pula yang menulis Nopember. Ada Februari, ada Pebruari. Ahad atau Minggu? Sabtu atau Saptu? Jumat? Jum’at?

Berikut adalah penulisan nama hari dan bulan yang benar.

Senin (bukan Senen)
Selasa
Rabu (bukan Rebo)
Kamis (bukan Kemis)
Jumat (bukan Jum’at)
Sabtu (bukan Saptu)
Minggu (boleh ditulis Ahad)

Januari
Februari (bukan Pebruari)
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November (bukan Nopember)
Desember

Nah, kalau begitu, bagaimana dengan ITS? Apakah kata “Nopember” di dalam singkatan ini diperbolehkan, mengingat ITS adalah sebuah nama sehingga tidak terikat dengan kaidah ejaan? Ataukah mereka tetap harus tunduk pada kaidah ini?