SelanjutnyaSebelumnya

Maaf Lahir Batin

Biarpun terlambat, saya ingin menyampaikan selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf atas kesalahan, baik lahir maupun batin. :)

Beberapa hari sebelum dan sesudah lebaran, salah satu frase yang paling sering diucapkan atau ditulis adalah “maaf lahir dan batin”, atau ada pula yang menulisnya “maaf lahir dan bathin“.

Jika kita ingin berpegang pada kaidah unsur serapan, maka kata yang benar adalah batin, bukan bathin. Huruf dalam bahasa Arab memang membedakan bunyi t dan th sehingga bisa jadi artinya menjadi berbeda pada beberapa kata yang lain. Dan rasanya belum afdal jika kita tidak menulisnya dengan bathin. :) Demikian pula dengan kata lain seperti salat, azan, hadis, Ramadan, dan magrib, lebih banyak orang yang senang menuliskannya dengan shalat, adzan, hadits, Ramadhan atau Ramadlan, dan maghrib.

Dalam hal ini, perlukah kata pungut dari bahasa Arab diperkecualikan dari kaidah unsur serapan?

Tambahan: Abdul Gaffar Ruskhan membuat sebuah tulisan yang membahas unsur serapan bahasa Arab dalam bahasa Indonesia.

Unsur Serapan

Unsur serapan dalam bahasa Indonesia dapat dibagi atas dua golongan besar. Pertama, unsur yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti reshuffle, shuttle cock, dan long march. Unsur-unsur ini dipakai dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi pengucapannya masih mengikuti cara asing.

Kedua, unsur asing yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia dan diubah seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.

Di samping itu, akhiran yang berasal dari bahasa asing diserap sebagai bagian kata yang utuh. Kata seperti standardisasi, implementasi, dan objektif diserap secara utuh di samping kata standar, implemen, dan objek.

Pedoman EYD mengatur kaidah ejaan yang berlaku bagi unsur-unsur serapan. Beberapa kaidah yang berlaku misalnya c di muka a, u, o, dan konsonan menjadi k (cubic menjadi kubik, construction menjadi konstruksi), q menjadi k (aquarium menjadi akuarium, frequency menjadi frekuensi), f tetap f (fanatic menjadi fanatik, factor menjadi faktor), ph menjadi f (phase menjadi fase, physiology menjadi fisiologi).

Akhiran-akhiran asing pun dapat diserap dan disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Misalnya akhiran -age menjadi -ase, -ist menjadi -is, -ive menjadi -if.

Akan tetapi, dengan berbagai kaidah unsur serapan tersebut, kesalahan penyerapan masih sering kali dilakukan oleh para pemakai bahasa. Pujiono menemukan kata sportifitas lebih banyak muncul di Google dibandingkan kata sportivitas, demikian pula dengan kata aktifitas dibandingkan dengan kata aktivitas.

Satu hal lagi, bahasa Indonesia memang termasuk luwes dalam menerima dan menyerap unsur dari pelbagai bahasa lain. Namun keluwesan ini hendaknya tidak membuat kita serampangan dalam membentuk istilah baru dan mengabaikan khazanah bahasa kita.

Didalam Standard

Mencari Jati Diriā„¢: Berapa Harga Anda?, alinea terakhir:

Mungkin sebaiknya pemerintah atau badan independent membuat standard nilai dari Sistem Informasi, jadinya kalau ada yang nanya berapa nilai kontrak untuk sebuah sistem informasi x, saya akan menjawab silahkan merujuk kepada standard no. xxx :p. Didalam dunia Teknik Sipil, setahu saya standard harga ini ada, dan diterbitkan oleh secara berkala oleh pemerintah (CMIIW)

Kata yang baku adalah standar, meskipun menjadi standardisasi ketika diberi akhiran -isasi. Dan frasa didalam seharusnya adalah di dalam, karena kata dalam merujuk pada tempat.

Juga kata silahkan, kata bakunya adalah silakan.