15-11-2005
Maaf Lahir Batin
Biarpun terlambat, saya ingin menyampaikan selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf atas kesalahan, baik lahir maupun batin.
Beberapa hari sebelum dan sesudah lebaran, salah satu frase yang paling sering diucapkan atau ditulis adalah “maaf lahir dan batin”, atau ada pula yang menulisnya “maaf lahir dan bathin“.
Jika kita ingin berpegang pada kaidah unsur serapan, maka kata yang benar adalah batin, bukan bathin. Huruf dalam bahasa Arab memang membedakan bunyi t dan th sehingga bisa jadi artinya menjadi berbeda pada beberapa kata yang lain. Dan rasanya belum afdal jika kita tidak menulisnya dengan bathin.
Demikian pula dengan kata lain seperti salat, azan, hadis, Ramadan, dan magrib, lebih banyak orang yang senang menuliskannya dengan shalat, adzan, hadits, Ramadhan atau Ramadlan, dan maghrib.
Dalam hal ini, perlukah kata pungut dari bahasa Arab diperkecualikan dari kaidah unsur serapan?
Tambahan: Abdul Gaffar Ruskhan membuat sebuah tulisan yang membahas unsur serapan bahasa Arab dalam bahasa Indonesia.
