Dari celetukan itu, ada beberapa hal yang perlu kita cermati. Pertama, tampaknya pengertian bahasa yang baik dan benar itu belum dipahami oleh sebagian orang. Kedua, ada anggapan bahwa di mana dan kapan saja berada, kita harus berbicara dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Apakah memang demikian? Abdul Gaffar Ruskhan: Kapan Berbahasa yang Baik dan Benar?
Setiap suksesi kepemimpinan (era Soekarno dan era Soeharto) selalu diikuti oleh pergantian idiom simbolis (akronim). Dalam memori masyarakat akronim lebih dikenal dan bertahan daripada kepanjangannya; orang lebih ingat dan mengenal akronim Kopkamtib, Bakorstranas, DPKSH, Ratih, tetapi tidak setiap orang ingat kepanjangannya. D. Jupriono: Akronim Birokrasi, Militer, dan Masyarakat Sipil dalam KBBI
Komoditi sebagai penulisannya yang benar, yang standar atau baku. Sebaliknya penulisan komoditas kita lupakan, kita tinggalkan karena salah, tidak bertaat asas pada kaidah EYD yang wajib kita junjung tinggi dalam penegakan hukum dalam segala bidang kehidupan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pikiran Rayat: Salah Kaprah Penulisan Kata Komoditas
Dalam acara yang serius, seperti tayangan berita, kata Remy, diperlukan bahasa Indonesia yang tertib. "Kemudian dalam acara yang tergolong populer, menyangkut semua aspek kemasyarakatan, kebudayaan dan kesenian seyogyanya tidak perlu ada pagar-pagar bahasa yang membuat bahasa menjadi kering, tidak mengalir, tidak intuitif, tidak hidup, sejauh tentu saja itu tidak merupakan bahasa yang kasar, tidak santun, dan tidak senonoh menurut kaidah moralitas statistik," katanya. Gatra: Remy Sylado: Bahasa Televisi Harus Luwes
Kepatuhan setiap warga negara pada ketetapan yang digariskan oleh Pusat Bahasa seperti antara lain pembakuan kosa kata, dapat dipandang sebagai partisipasi aktif yang positif dalam membina terwujudnya bahasa Indonesia yang baik dan benar. Pikiran Rakyat: Pembakuan Kosa Kata Indonesia
Di pihak lain, pakar bahasa menyarankan pemakaian bahasa yang sesuai dengan kaidah, tetapi di pihak lain masyarakat masih terbiasa berbahasa dengan mengabaikan kaidah bahasa Indonesia. Namun, tidak berarti kesalahan itu kita biarkan berlarut-larut. Pontianak Post: Bagaimanakah Penulisan Unsur Serapan Bahasa Asing?
Hal yang membuat saya kaget adalah cetusan dari Prof. Sudjoko yang saat itu menjadi pembicara. Dia mengatakan bahwa selama ini kita telah salah menggunakan kata pemersatu. Menurutnya, kata yang benar adalah pembersatu, sesuai dengan makna yang dikandungnya. Pikiran Rakyat: Kita Baru ”Mersatu”, Belum ”Bersatu”
Akan tetapi, tampaknya dalam pemakaian bahasa Indonesia oleh masyarakat, baik bahasa formal atau bahasa sehari-hari, lisan atau tulisan, selera "pasar" juga berlaku, terlepas dari baku atau tidaknya. Pikiran Rakyat: Beberapa Curahan Hati tentang Pemakaian Bahasa Indonesia
Memang dalam bahasa Indonesia ada sejumlah kata atau frasa yang maknanya samar atau tidak jelas. Betapa sering pejabat Indonesia mengatakan, "Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, bla bla bla...." Tidak diinginkan oleh siapa? Tidak jelas. Apa hal-hal yang tidak diinginkan itu? Juga tidak jelas. Kompas: Sebelum Makan Siang
Perbedaan makna kata betina dengan wanita atau betina dengan perempuan itu sudah jelas bagi kita. Akan tetapi, apa beda antara wanita dan perempuan ini yang belum jelas! Sudarwati, D. Jupriono: Betina, Wanita, Perempuan: Telaah Semantik Leksikal, Semantik Historis, Pragmatik
Sehubungan dengan kata turunan (derivative word), kita mengenal gabungan kata yang terbentuk oleh kombinasi bentuk terikat atau dengan kata turunan atau dengan kata yang diawali huruf kapital/besar dan dibubuhi tanda hubung. Soehenda Iskar: Kaidah Penulisan Gabungan Kata
Yang mengherankan adalah bahwa dalam tulisan-tulisan surat kabar hampir selalu hipnotis (adjektiva) dipakai sebagai nomina, atau verba (mestinya: menghipnosis) dibentuk berdasarkan adjektiva. K Bertens: Hipnosis dan Hipnotis
Mayoritas penutur bahasa Indonesia sudah kerap mendengar atau mengenal EYD sebagai akronim dari Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan, tetapi belum memahami sepenuhnya. Baiklah kita telusuri makna sesungguhnya EYD ini. Soehenda Iskar: EYD itu apa?
Ada tiga macam konjungsi yaitu (a) konjungsi subordinatif dalam hubungan bertingkat/tak sederajat lazimnya dalam kalimat majemuk bertingkat, ... Pikiran Rakyat: Konjungsi Bermasalah Nonbaku