23-01-2006
Bahasa Kita Punya Nama
Seorang pembaca blog ini, Bunga Sirait, berkirim surat—beliau menyebutnya sebagai curhat—tentang bahasa Indonesia yang sering kali disebut sebagai “bahasa” saja. Barangkali persoalan ini tidak begitu selaras dengan tema pada blog ini secara keseluruhan, tetapi saya tampilkan karena sudah lama muncul dan merisaukan.
Berikut adalah kutipannya.
Saya sering mendengar orang menulis atau berbicara, “Do you speak bahasa?” Ini sering saya dengar dan keluar dari mulut orang asing—dan ironisnya juga dari mulut orang Indonesia sendiri kalau mereka berbicara dengan orang asing. Ini terjadi begitu sering sehingga cukup mengganggu saya, sementara saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya sering bilang, “Ya jelas, dong. Orang kan bicara bahasa, memangnya kita bicara pukulan atau cakaran?”
Namun mereka yang saya tahu menggunakan kalimat seperti itu kerap menjawab “Itu bagaimana mereka (orang asing) memahami bahasa Indonesia. Mereka ngertinya begitu,” ketika saya tanya mengapa mereka masih menggunakan bahasa dalam kalimat-kalimat seperti itu. Kalau orang asing kita mencoba mengerti, sementara kalau kita sendiri yang begitu, kita pasti akan terdengar sangat bodoh, dan mungkin orang-orang yang sama tidak akan mencoba mengerti. Saya terus terang kecewa bercampur frustasi. Orang-orang itu mungkin bisa berpikir mereka pengertian, namun saya melihat mungkin itu bentuk mental bangsa jajahan yang tidak percaya diri. Mengapa untuk menggunakan bahasa sendiri pun kita harus menunduk pada logika orang lain, kalau itu memang alasannya.
Kekecewaan saya bertambah lagi ketika situs media sebesar—kalau tidak sekredibel—Tempo juga melakukan hal yang serupa. Coba buka situs tempointeraktif dan buka versi Bahasa Inggris-nya. Pada boks yang memampang beragam menu berita, ada pilihan “Bahasa” di atas “Japanese” (yang mungkin menurut Tempo bukan bahasa).
Sungguh mengecewakan, tapi lagi-lagi, apa boleh buat saya tidak menemukan kolom contact us-nya, jadi saya curhat di sini saja. Dengan bahasa. (Bunga Sirait)
