SelanjutnyaSebelumnya

(Satu Lagi) Catatan untuk Pengguna KBBI

Memulai pembicaraan tentang KBBI mungkin bisa dianalogikan dengan membuka sekaleng cacing, banyak masalah merayap keluar. Salah satu yang dipicu entri Catatan untuk Pengguna KBBI adalah masalah ketidakkonsistenan cara penulisan lema yang baku. Di antaranya, Mas Soleh mempertanyakan masalah Peluluhan, yaitu mengapa “mensosialisasikan” dan tidak “menyosialisasikan”? Tentu saja yang paling mampu menjawab adalah anggota tim penyusun KBBI itu sendiri alih-alih kita yang sekadar pengguna. Nah, sementara menunggu masukan mereka, Mas Soleh mungkin bisa terbantu dengan catatan berikut yang selama ini digunakan sebagai panduan kami para editor.

(1) Peluluhan berlaku apabila awalan “meng-” langsung diikuti huruf pertama kata dasar yang berawalan “k, p, s, t” yang
(2) tidak diawali gugus atau gabungan konsonan, dan
(3) peluluhan tidak berlaku apabila awalan “meng” diikuti huruf pertama awalan “per-”.

Berikut beberapa contohnya. Untuk butir

(1) kabar–>mengabarkan, pacu–>memacu, sadar–>menyadari, taat–>menaati;
(2) kritik–>mengkritik, prihatin–>memprihatinkan, syarat–>mensyaratkan, transfer–>mentransfer;
(3) “mempermasalahkan” bukan “memermasalahkan”.

Jadi, berdasarkan aturan di atas, yang benar adalah “memedulikan, memengaruhi, memercayai, memerhatikan”. Bagaimana dengan “punya”, yang seharusnya jadi “memunyai” tapi di KBBI tetap “mempunyai”? (Demikian juga dengan “sosialisasi” yang tetap “mensosialisasikan?) Mengapa bisa begitu? Untuk mengetahui jawaban pastinya, kembali kita harus menunggu pencerahan dari anggota tim penyusun KBBI.

Catatan untuk Pengguna KBBI

Tulisan Polisi EYD tentang “sekedar” membuat saya ingin berbagi cerita berikut.

Saya beberapa kali dibuat jengah ketika koreksi saya atas ejaan yang digunakan seorang rekan junior ternyata keliru karena saya masih mengacu kepada KBBI edisi jadul (sampul hijau, biru, cokelat) sedangkan dia sudah menggunakan yang mutakhir (sampul merah). Berikut beberapa contoh lema dalam KBBI yang mengalami perubahan cara penulisan: versi lama “frase, intisari, paro, dua per lima (semua angka pecahan), segi tiga” jadi versi baru “frasa, inti sari, paruh, dua perlima, segitiga”. Sepertinya sepele ya, tapi bisa runyam kalau kita bergelut di bidang editing!

Dari komunikasi dengan sesama editor, penerjemah, dan penulis, saya melihat adanya kebutuhan mensosialisasikan dua hal berkaitan dengan penggunaan KBBI, yaitu (1) Mengaculah kepada KBBI edisi terbaru, saat ini Edisi III Cetakan II, sampul merah, harga Rp225.000, (2) Pilihlah lema yang diacu oleh tanda anak panah: bila tertulis “lembab —> lembap”, maka gunakan “lembap” karena itu merupakan varian kata lema yang ejaannya dianggap baku (iklan produk perawatan kecantikan di media massa secara konsisten menggunakan bentuk pertama).

Satu catatan penutup. Beberapa saat lalu saya secara tidak sengaja menemukan satu perubahan berikut: Di KBBI sampul cokelat (1995), “per” dalam angka pecahan ditulis “dua per lima”, sedangkan di KBBI sampul merah (2002) yang tertulis adalah “dua perlima”. Yang menarik, di buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia terbitan tahun 1988 tertulis “tiga perlima”. Mengapa bisa begitu? Dari “perlima” (‘88) menjadi “per lima” (‘95) kemudian kembali menjadi “perlima” (‘02)? Hanya tim penyusun KBBI yang bisa menjelaskan.

Sekedar?

Kembali saya tuliskan beberapa potongan artikel di media kita.

Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla menyatakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) harus menjadi budaya yang wajib dilaksanakan dan bukan sekedar jadi imbauan. (Media Indonesia)

Masyarakat kini tak hanya sekedar datang, tapi juga berbelanja buku. Dengan begitu, industri buku bisa tetap bergairah. (Republika)

Kata sekedar adalah kata nonbaku. Kata yang baku adalah sekadar yang merupakan kata turunan dari kata kadar. Jadi, biasakanlah menulis sekadar—jangan sekedar—apalagi dalam tulisan resmi. Ini sekadar pemberitahuan saja.